Senin, 16/12/2019 20:00 WIB

Masyarakat Diimbau Ikut Tekan Angka Kejadian Kanker

Selagi obat kanker belum ditemukan, masyarakat hanya bisa melakukan tindak pencegahan dengan cara meminimalisasi faktor risiko, maupun deteksi dini.

Talkshow Kanker Payudara dan Tiroid di Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimatan Timur (Foto: Dok. YKPI)

Jakarta, Jurnas.com - Hingga saat ini, kanker masih merupakan penyakit yang menjadi perhatian dunia. Selagi obat kanker belum ditemukan, masyarakat hanya bisa melakukan tindak pencegahan dengan cara meminimalisasi faktor risiko, maupun deteksi dini.

Ketua Perhimpunan Ahli Bedah Onkologi Indonesia (Peraboi) dr. Walta Gautama mengatakan, masyarakat juga bisa terlibat dalam menekan angka kejadian kanker, termasuk kanker payudara. Caranya ialah dengan melakukan pemeriksaan secara dini.

"Rata-rata pasiennya datang ke dokter saat stadium lanjut. Faktor inilah sebenarnya yang menyebabkan angka kematian akibat kanker menjadi tinggi," ujar Walta dalam kegiatan `Talkshow Kanker Payudara dan Tiroid` di Pendopo Bupati Tenggarong, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, pada Sabtu (19/10), yang dipandu oleh komedian Tukul Arwana.

"Padahal jika mereka datang ke dokter pada stadium awal kemungkinan dapat disembuhkannya tinggi sekali. Bisa mencapai 98 persen," imbuh Walta.

Sejak disahkan sebagai anak organisasi Perhimpunan Dokter Spesialis Bedah Indonesia (IKABI) dan anggota World Federation of Surgical Oncology Society (WFSOS) pada 1984, Peraboi telah melakukan pelbagai kegiatan.

"Bukan hanya untuk melestarikan pengembangan ilmu bedah onkologi dengan pertemuan-pertemuan ilmiah saja, melainkan juga turun ke masyarakat hingga ke daerah-daerah terpencil, melakukan bakti sosial atau sosialisasi tentang penyakit kanker," jelas dia.

Sementara Ketua Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI) Linda Agum Gumelar menekankan bahwa pengobatan kanker payudara memang tidak murah.

Karena itu, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kabinet Indonesia Bersatu itu menyarankan supaya masyarakat melakukan upaya pencegahan dan deteksi dini melalui periksa payudara sendiri (Sadari), maupun periksa payudara secara klinis (Sadanis).

`Linda juga memaparkan, menurut data Unit Mobil Mammografi (UMM) YKPI, hingga April 2019 sebanyak 13.214 orang telah melakukan mamografi dengan hasil 1.973 (14,8 persen) orang memiliki tumor jinak, dan 203 orang (1,5 persen) memiliki tumor ganas.

"Mereka yang diduga memiliki tumor langsung dirujuk melakukan pemeriksaan klinis lebih lanjut di rumah sakit, agar kankernya dapat segera tertangani secara klinis dan biaya pengobatannya juga tidak menjadi tinggi," saran dia.

TAGS : Kanker Payudara YKPI Peraboi




JURNAS VIDEO :

TERPOPULER :