Sabtu, 22/02/2020 05:12 WIB

Indonesia Ditargetkan Produksi Baterai Lithium pada 2022

Menurut Nasir, kebutuhan baterai lithium akan semakin meningkat, seiring dimulainya industri motor dan mobil listrik di Tanah Air.

Motor listrik Gesits (Foto: Muti/Jurnas)

Jakarta, Jurnas.com - Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir menargetkan produksi baterai lithium di Indonesia bisa terlaksana pada 2022 mendatang.

Menurut Nasir, kebutuhan baterai lithium akan semakin meningkat, seiring dimulainya industri motor dan mobil listrik di Tanah Air.

Menristekdikti menjelaskan, saat ini Indonesia sedang mengembangkan teknologi, guna memproses bahan baku lithium di Halmahera dan diperkirakan pada 2021 sudah terbangun.

"Saat Halmahera sudah terbangun, bahan baku lithium sudah tersedia. Maka tahun 2022 atau 2023 kita sudah bisa memproduksi baterai lithium secara mandiri. UNS sudah jalan, tinggal membuat sistem otomatisasi," ujar Menristekdikti di Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS) Surakarta pada Jumat (31/5).

Sebelumnya, UNS telah mengembangkan baterai lithium ion sejak 2012, dan tercatat sudah masuk dalam industri. Menteri Nasir berharap baterai lithium UNS nantinya dapat menyuplai kebutuhan motor listrik GESITS.

"Jika dilihat dari kompetitornya yang sekelas dengan Honda yang harganya sampai Rp 60 juta, yang dijual oleh GESITS hanya Rp23 juta, baterai yang menjadi tumpuannya yang nilainya 30 persen dari cost tersebut. Sangatlah tepat bagi UNS yang mengembangkan baterai lithium yang saat ini sudah masuk industri," tutur Nasir.

Menristekdikti berharap ke depan baterai bisa menjadi salah satu alternatif energi terbarukan yang ada di Indonesia mengingat fosil yang ketersediaannya sangat terbatas.

Para peneliti dituntut senantiasa dapat mengembangkan inovasi di bidang ini demi masa depan Indonesia yang lebih baik.

Pada kesempatan yang sama Rektor UNS Jamal Wiwoho melaporkan tentang Pengembangan baterai lithium UNS yang dimulai sejak tahun 2012 sejalan dengan pencanangan program Mobil Listrik Nasional (Molina).

"Baterai lithium yg dikembangkan UNS saat ini dapat diaplikasikan untuk kendaraan listrik dan alat penyimpan energi dari pembangkit energi yang terbarukan," ungkap Jamal.

Selain itu, Jamal menyampaikan bahwa sampai saat ini sebagian besar bahan material yang digunakan untuk produksi baterai lithium masih impor.

"Oleh karena itu, kami sudah merencanakan untuk pengembangan ke depan akan menggunakan material aktif dengan menggunakan bahan baku yang berasal dari dalam negeri," ungkap Jamal.

Sementara itu Ketua Tim Peneliti Teaching Factory Baterai Lithium UNS Agus Purwanto mengatakan hasil penelitiannya setelah diproduksi dalam skala penelitian menghasilkan 1000 unit baterai/harinya bekerjasama dengan Pertamina.

"Kami bekerjasama dengan industri swasta seperti Pertamina dalam memproduksi baterai lithium UNS secara massal untuk kebutuhan pasar kendaraan listrik," tandas Agus.

TAGS : Baterai Lithium Mohamad Nasir Mobil Listrik




JURNAS VIDEO :

TERPOPULER :