Selasa, 31/03/2020 16:45 WIB

Jalan Berbatu "Link and Match" SMK-Industri

Salah satunya, menurut Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Kementerian Perindustrian (BPSDM Kemenperin) Mujiyono, SMK tidak menyediakan kompetensi keahlian yang dibutuhkan oleh industri.

Pelajar SMK

Jakarta, Jurnas.com – Program "Link and Match" antara sekolah menengah kejuruan (SMK) dan industri masih menemui jalan berbatu. Kendati saat ini sudah ada 2.612 SMK yang bekerja sama dengan 855 industri, masih ada sejumlah pekerjaan rumah yang menanti untuk segera diselesaikan pemerintah di lapangan.

Salah satunya, menurut Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Kementerian Perindustrian (BPSDM Kemenperin) Mujiyono, SMK tidak menyediakan kompetensi keahlian yang dibutuhkan oleh industri.

Walhasil, kondisi ini kerap kali menyebabkan industri enggan menggunakan peserta magang SMK, untuk praktik di sektor lane produksi.

“Contohnya di jurusan kimia industri terdapat tujuh kompetensi keahlian yang dibutuhkan oleh industri, yang tidak diajarkan di SMK. Akhirnya sekarang modul kami buat,” ujar Mujiyono kepada awak media pada Senin (8/4) di Kantor BPSDM Kemenperin Jakarta.

Dengan adanya modul pun bukan berarti masalah usai. Implementasi modul, lanjut Mujiyono, nyatanya terkendala oleh minimnya jumlah guru produktif.

“Guru produktifnya cuma 300.000-an. Hanya 22 persen. Padahal kan harusnya 60 persen, karena 60 persen praktik, 40 persen teori,” imbuh dia.

Selain faktor kurikulum dan guru, Mujiyono juga menyoroti alat-alat praktik di laboratorium SMK yang sebagian besar sudah ketinggalan zaman. Padahal alat-alat laboratorium tersebut berguna untuk mengenalkan siswa, sebelum praktik di industri.

“Karena itu, sekarang sinergi antara Kemendikbud (Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan) dan Kemenperin membuat SK bersama. Supaya efektif, Kemendikbud mengoyak SMK-nya, Kemenperin mengoyak industrinya,” kata Mujiyono.

Peningkatan Kompetensi Asesor Kimia Industri

Dalam kegiatan pelatihan kompetensi asesor di Kantor BPSDM Kemenperin, Ketua Dewan Pengarah Lembaga Sertifikasi Kompetensi Kimia Industri Mas Ayu Elita Hafizah memandang, pelatihan asesor berguna untuk menghasilkan tenaga kerja yang terampil, khususnya di bidang industri kimia.

Terlebih, saat ini Indonesia sedang berpacu dengan Revolusi Industri 4.0, sehingga diperlukan asesor yang kompeten di bidangnya.

“Pelatihan Asesor kali ini telah mewakili beberapa Instansi terkait mulai dari akademisi, instansi pemerintah, dan praktisi dari industri. Sehingga ke depannya kolaborasi yang baik di antara para stake holder mampu menjadikan bangsa ini lebih maju lagi,” terang Mas Ayu.

TAGS : Link and Match SMK-Industri




JURNAS VIDEO :

TERPOPULER :