Senin, 10/08/2020 06:54 WIB

India Catat Penurunan Ekonomi pada Kuartal Terakhir

Pertumbuhan PDB di ekonomi terbesar ketiga di Asia berkurang menjadi 6,6 persen pada kuartal ketiga, penurunan berturut-turut dari 7,1 persen dalam tiga bulan hingga akhir November.

Bendera kebangsaan India bersanding dengan benderan kebangsaa Iran (Foto: shutterstock)

New Delhi, Jurnas.com - Data resmi India mencatat ekonomi India pada kuartal terakhir masih mengalami perlambatan mejeng pemilu dan bentrokan perbatasan dengan sainga rivalnya, Pakistan.

Pertumbuhan PDB di ekonomi terbesar ketiga di Asia berkurang menjadi 6,6 persen pada kuartal ketiga, penurunan berturut-turut dari 7,1 persen dalam tiga bulan hingga akhir November.

Angka-angka itu berimbas buruk bagi Perdana Menteri Narendra Modi, yang berjanji menciptakan jutaan lapangan kerja dan memacu pertumbuhan ekonomi sejak berkuasa pada 2014.

"Angka-angka mengecewakan dan menunjukkan lintasan pertumbuhan melambat dan pemerintah Modi tidak dapat melakukan apa pun antara sekarang dan pemilihan umum," kata seorang ekonom independen, Ashutosh Datar, Kamis (28/2).

Angka itu menurun seiring lesuhnya daya beli konsumen dan perlambatan dalam investasi.

Kantor Pusat Statistik India juga merevisi turun perkiraan pertumbuhannya untuk tahun fiskal yang berakhir Maret menjadi tujuh persen dari proyeksi sebelumnya sebesar 7,2 persen.

Para analis mengatakan India perlu secara teratur mencatat tingkat pertumbuhan setidaknya delapan persen untuk menciptakan lapangan kerja bagi jutaan orang India yang memasuki dunia kerja setiap tahun.

Angka tidak resmi, bocor dari kementerian statistik awal tahun ini, menunjukkan tingkat pengangguran India pada tertinggi 45 tahun sebesar 6,1 persen.

Angka itu juga dipengaruhi New Delhi dan Islamabad konflik bersenjata yang menurut para analis dapat menakuti investor asing melakukan investasi yang sangat dibutuhkan di India.

Kedua negara itu telah menembak jatuh pesawat-pesawat tempur satu sama lain dalam konflik yang meningkat atas perbatasan Kashmir yang disengketakan setelah berminggu-minggu ketegangan meningkat.

"Investor asing mungkin menjauh dari India tergantung pada pertumbuhan yang lemah dan masalah keamanan yang sedang berlangsung," kata ekonom perusahaan sekuritas Anand Rathi yang berbasis di Mumbai, Sujan Hajra.

Para ahli mengatakan dibutuhkan lebih banyak pemotongan suku bunga.

Akhir tahun lalu, Shaktikanta Das, yang secara luas dipandang sebagai sekutu Modi, diangkat menjadi gubernur Bank Cadangan India setelah kepala sebelumnya berhenti, dan mengatakan akan secara teratur mengadakan konsultasi dengan pemerintah.

Bank menurunkan suku bunga di bulan Februari menjadi 6,25 persen, tetapi para ahli mengatakan lebih banyak pengurangan akan segera terjadi.

"Akan ada tuntutan untuk pemotongan suku bunga lebih lanjut dan kita bahkan dapat melihat RBI memotong suku bunga sebesar 50 basis poin untuk mendorong pertumbuhan," kata Hajra.

TAGS : Konflik India Pakistan Jaish-e-Muhammad Asia Tengah




JURNAS VIDEO :

TERPOPULER :