Senin, 18/11/2019 00:45 WIB

Tesiayofanu, Desa Model Peternakan Sapi Pertama di NTT

Selain memiliki kelompok petani aktif, Desa Tesiayofanu dilirik karena kaya inseminasi buatan.

Peternakan sapi di Desa Tesiayofanu, TTS, Nusa Tenggara Timur

Kupang – Melalui proyek SCHILD (Strong CSOs for Inclusive Livestock value chain Development), Plan International Indonesia, Selasa (30/5) meresmikan Desa Tesiayofanu, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) sebagai desa peternakan sapi. Proyek yang didanai oleh Uni Eropa tersebut juga menjadikan Desa Tesiayofanu sebagai desa model peternakan pertama di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).

Mengapa Desa Tesiayofanu dijadikan desa model peternakan pertama? Project Manager Plan International Indonesia Yedityah Mella menjelaskan Tesiayofanu memiliki potensi besar untuk mengembangkan peternakan sapi. Hal itu dilihat dari luas desa yang mencapai 19 km2 dengan jumlah 503 kepala keluarga, ternyata memiliki 16 kelompok tani aktif.

“Mereka punya total anggota 350 orang, dengan jumlah ternak 574 ekor sapi, 625 ekor babi, 58 ekor kambing, dan 528 ayam,” kata Yedityah, di TTS, Selasa (30/5).

Selain memiliki kelompok petani aktif, Desa Tesiayofanu dilirik karena kaya inseminasi buatan. Berbagai jenis sapi hasil inseminasi buatan, seperti sapi Bali hingga sapi Limosin dapat ditemukan di desa ini.

“Sampai saat ini sudah ada 42 sapi Bali, 129 sapi Limosin, 23 sapi Angus, dan satu ekor sapi jenis Brangus,” terangnya.

Adapun proyek SCILD tidak hanya diterapkan di Desa Tesiayofano. Hingga saat ini SCILD dikembangkan di 40 desa yang tersebar di lima kabupaten, yakni Kabupaten Kupang, TTS, Timor Tengah Utara (TTU), Belu dan Malaka. Menariknya, proyek ini sudah menarik 2.000 kaum muda untuk berpartisipasi, 1.300 di antaranya adalah perempuan.

“Proyek ini menitikberatkan peningkatan kapasitas organisasi atau kelompok masyarakat yang ada di desa dampingan, dengan sasaran kaum muda, terutama perempuan,” ujar Country Director Plan Indonesia Mingming Remata Evora dalam kesempatan terpisah.

Sementara Duta Besar Uni Eropa untuk Indonesia Vincent Guerend mengatakan proyek SCILD pada dasarnya juga bertujuan untuk memberdayakan kaum muda di NTT, agar tidak tertarik untuk menjadi TKI di luar negeri. Sebab, NTT memiliki potensi kekayaan alam yang bisa dimanfaatkan oleh masyarakat lokal.

“Supaya dapat penghasilan lebih baik, sehingga mengurangi keinginan untuk pergi bekerja ke luar negeri. SCILD juga mengajarkan cara beternak yang baik dan bagaimana mengelola peternakan,” tutur Vincent.

TAGS : Plan International Indonesia Tesiayofanu Peternakan




JURNAS VIDEO :

TERPOPULER :