Kudeta yang terjadi Minggu (5/9) adalah yang ketiga sejak April di Afrika Barat dan Tengah, meningkatkan kekhawatiran tentang kembalinya kekuasaan militer di wilayah yang telah membuat langkah menuju demokrasi multi-partai sejak 1990-an.
Pemerintah Turki menekankan harapan kuat Ankara untuk pemulihan cepat tatanan konstitusional di negara Afrika Barat dan pembebasan segera Conde.
Pemimpin berusia 83 tahun itu menolak menjawab pertanyaan dari seorang tentara tentang apakah dia telah dianiaya.
Perubahan konstitusi itu dinilai sangat kontroversial, dikhawatirkan memicu demonstrasi massa yang akan menewaskan puluhan orang.
Seorang peneliti Filipina dengan Human Rights Watch yang berbasis di New York, Carlos Conde menilai candaan Presiden Filipina Rodrigo Duterte tentang penggunaan narkoba akan menimbulkan kemarahan para keluarga pelaku narkoba yang dibantainya.