Sejumlah survei yang dilakukan oleh Pengurus Besar Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) menemukan bahwa 85,5 persen orang tua (ortu) cemas bila sekolah dimulai pada pertengahan Juli ini.
Menurut Ketua Umum PGRI, Unifah Rosyidi, kurikulum yang berjalan saat ini dipandang terlalu padat dan tidak efektif dalam penerapan kegiatan belajar dari rumah.
PGRI mendesak pemerintah membenahi infrastruktur listrik dan internet di seluruh pelosok nusantara.
Pengurus Besar Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) menegaskan bahwa peran guru pasca pandemi virus corona baru (Covid-19), tetap tidak tergantikan oleh teknologi.
Rhenald Kasali menyebut masih banyak siswa yang mengalami kebingungan saat menerapkan kegiatan Belajar dari Rumah, setelah ditiadakannya belajar tatap muka di sekolah.
Unifah Rosyidi menilai krisis virus corona baru (Covid-19) tidak hanya memaksa guru memindahkan pemb
Bagi mereka yang memiliki akses teknologi, lanjut Unifah, perlahan namun pasti guru harus mulai akrab dengan teknologi. Sebab, dengan teknologi guru dapat berinovasi dengan beragam cara.
elajaran dari ruang kelas ke rumah.
Pesan ini disampaikan Ketua Umum PGRI Unifah Rosyidi, dalam peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2020, pada Sabtu (2/5).
Yuni menuturkan bahwa sebelumnya dia tidak memilik impian terjun maupun melakoni pekerjaan di dunia pendidikan
Menurut Ketua Umum PGRI Unifah Rosyidi, saat ini muncul kebutuhan bahwa nilai-nilai Pancasila harus diinternalisasi kepada siswa, di tengah maraknya serbuan nilai-nilai baru.
Penyertaan syarat harus memiliki Nomor Unik Pendidik dan Tenaga Kependidikan (NUPTK) per 31 Desember 2019 sangat sulit dipenuhi oleh para guru honorer.