Pelaku seksual itu termasuk pejabat partai tingkat tinggi, penjaga penjara dan detensi fasilitas dan interogator, polisi rahasia, jaksa, dan tentara.
Wartawan perempuan sering berisiko lebih besar menjadi sasaran karena pelaporan dan gender mereka.
Tak hanya di ruang domestik, kekerasan terhadap perempuan juga marak terjadi di ruang publik, salah satu di antaranya tempat bekerja.
Rohingya, yang digambarkan oleh PBB sebagai orang-orang yang paling teraniaya di dunia, telah menghadapi ketakutan yang meningkat karena puluhan orang terbunuh dalam kekerasan komunal pada tahun 2012.
Nadia berharap nobel yang dia terima menjadi lecutan semangat bagi seluruh perempuan di dunia, untuk bangkit melawan kekerasan seksual.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Ahmed Mahjoub mengatakan Irak menentang teror dan kekerasan dengan alasan apapun.
Kekerasan telah merusak prasarana dasar Yaman, termasuk sistem kesehatan dan sanitasi, yang mendorong PBB untuk menggambarkan situasi sebagai "salah satu bencana kemanusiaan terburuk di zaman modern".
Kekerasan juga menimpa para pekerja rumah tangga (PRT) dan PRT migran, yang tak jarang berujung pada tindak kriminalisasi.
Sebagian besar anak-anak dan perempuan, melarikan diri dari Myanmar dan menyeberang ke Bangladesh setelah pasukan militer melancarkan tindakan kekerasan terhadap komunitas Muslim minoritas pada 25 Agustus 2017.
Mobil Perlindungan memperluas jangkauan pelayanan penanganan, pencegahan, dan pemberdayaan korban kekerasan terhadap perempuan dan anak.