Para pemimpin dari Masyarakat Muslim Cendekiawan Muslim Timur Turkistan (SMSET) yang berbasis di Turki menuduh Beijing terlibat dalam pelanggaran HAM sistematis terhadap warga Uighur.
Hal ini makin membuat khawatir saat ditemukan materi dalam buku pelajaran yang dilaporkan mengajarkan siswa kelas empat untuk membenci orang-orang berdarah campuran.
Di Myanmar, sebagian besar Rohingya tidak memiliki identitas hukum atau kewarganegaraan dan di Bangladesh
Bantuan akan digunakan untuk para pengungsi Rohingya yang ditampung di Cox`s Bazar.
Pelapor khusus PBB untuk Myanmar menekankan bahwa situasi hak asasi manusia di Rakhine terus memburuk.
Hami Aksoy mengatakan bukan lagi rahasia bahwa China secara sewenang-wenang menahan lebih dari satu juta warga Uighur di kamp tertutup.
Para demonstran meneriakkan slogan-slogan seperti "Kebebasan untuk Turkestan Timur", "Kebebasan untuk Uyghur", dan "Berhenti membunuh orang-orang Uyghur".
FRC mengatakan, konferensi dua hari itu akan dihadiri para cendekiawan terkenal dunia, utusan PBB, aktivis dan pengungsi, akan menyerukan akuntabilitas dan perlindungan bagi minoritas nasional di Burma, juga dikenal sebagai Myanmar.
Pelapor khusus PBB tentang situasi HAM di Myanmar menegaskan bahwa orang-orang Rohingya harus diperlakukan dengan baik.
Menuntut pelaku mempertanggungjawabkan kejahatan mereka diperlukan sebelum para pengungsi yang melarikan diri dari negara itu kembali.