Gedung Putih mengeluarkan pernyataan yang sepertinya menyangkal pernyataannya tentang menciptakan jalan menuju kewarganegaraan bagi penerima manfaat DACA.
Pengumuman yang disampaikan oleh Perdana Menteri Inggris Boris Johnson tersebut merupakan tanggapan internasional paling langsung terhadap UU Keamanan Nasional yang telah dikutuk oleh Barat.
Totok Suprayitno membantah kabar rencana peleburan mata pelajaran (mapel) agama dengan Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKN).
Seruan Modi itu datang setelah badai kritik dari partai-partai oposisi tentang kegagalan pemerintah untuk menahan kekerasan, meskipun menggunakan gas air mata, pelet dan granat asap.
Rekaman video yang viral di media sosial menunjukkan gerombolan yang di dahi mereka ditandai oleh garis safron, naik ke puncak menara masjid, di mana mereka berusaha menanam bendera.
Kaum Muslim yang memprotes undang-undang kewarganegaraan baru di negara itu adalah teroris yang harus diberi makan dengan peluru, bukan Nasi Biryani.
Demonstran memprotes RUU Kewarganegaraan yang dikhawatirkan mendiskriminasi komunitas Muslim minoritas.
Kedatangan mereka ke rumah rakyat, menurut pria asal Wonogiri, Jawa Tengah, itu untuk memperdalam ilmu Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKN).
Media lokal melaporkan pria itu mengunggah foto dirinya di media sosial dengan plakat untuk mengekspresikan ketidaksukaannya terhadap terhadap kebijakan Modi.
Para pemimpin Muslim percaya bahwa undang-undang baru akan dikaitkan dengan praktik nasional, di mana setiap warga negara akan diminta untuk membuktikan kewarganegaraan India.