Luka-luka itu terjadi selama protes Gaza yang diselenggarakan oleh penguasa Islam Hamas dan faksi-faksi lain yang mendukung Yerusalem, di mana bentrokan Palestina dengan polisi Israel membantu memicu konflik Israel-Hamas selama 11 hari pada bulan Mei.
Israel ingin bantuan asing ke Gaza disalurkan dalam bentuk voucher. Hal ini bertujuan mengantisipasi sumbangan diperalat oleh Hamas untuk kebutuhan gudang senjata.
Pesawat-pesawat tempur Israel melakukan serangan udara Jumat pagi di posisi-posisi di Jalur Gaza milik kelompok perlawanan Palestina Hamas.
Gerakan Perlawanan Islam Palestina Hamas mengutuk pelarangan Jerman atas pengibaran bendera dan simbol Hamas di negara tersebut,
Kejahatan penjajahan Israel dalam eskalasi yang makin brutal dan mengabaikan resolusi dan keputusan-keputusan PBB maupun lembaga internasional lainnya sudah dilakukan penjajah Israel jauh hari sebelum Hamas lahir.
Balon api dan serangan udara adalah kekerasan terbaru yang menambah tekanan pada gencatan senjata yang rapuh antara Israel dan penguasa Hamas di Gaza yang mulai berlaku pada 21 Mei, mengakhiri 11 hari pertempuran sengit.
Dalam sebuah pernyataan, tentara Israel mengatakan mereka menyerang kompleks Hamas. Mereka mengatakan, siap untuk semua skenario, termasuk pertempuran baru dalam menghadapi aksi teroris lanjutan yang berasal dari Gaza.
Pada hari yang sama, faksi Palestina, Hamas menyerukan peringatan `Hari Kemarahan` di Gaza dan Tepi Barat yang diduduki Israel. Hamas memperingatkan bahwa permusuhan akan terus berlanjut jika pawai itu tetap digelar.
Jurnalis Israel dan komentator Radio Angkatan Darat Jackie Khoji menilai bahwa alih-alih mengalahkannya setelah 30 tahun operasi militer, Gerakan Perlawanan Palestina Hamas menjadi lebih kuat dari Israel.
Rezim Israel kemudian memulai serangan militer brutal terhadap daerah sipil di Jalur Gaza yang dikepung awal bulan ini, menargetkan gedung-gedung tinggi perumahan apartemen perumahan dan kantor media.