Sanksi Amerika Serikat (AS) selain menyebabkan rasa sakit luar biasa dan kerugian bagi rakyat Iran selama bertahun-tahun, juga menyebabkan pencapaian besar bagi Negeri Para Mullah, seperti swasembada dalam banyak produk.
Hatami mengatakan, tindakan pelecehan kapal tanker yang dilakukan Paman Sam bertentangan dengan hukum internasional dan membahayakan keamanan global.
Rezim Zionis tidak akan pernah mematuhi perjanjian apa pun dan tidak akan mengerti apa-apa selain kekuatan.
Iran menyoroti sifat teroris Israel, dengan mengatakan rezim yang memiliki sejarah kelam agresi dan pendudukan belum berhenti memicu kekacauan di Timur Tengah.
Sejumlah kekalahan Israel dalam menghadapi front perlawanan regional selama beberapa tahun terakhir, termasuk dalam perang yang dilancarkan rezim terhadap Lebanon pada tahun 2000 dan 2006.
Keputusan itu termasuk perjanjian keamanan dengan Israel, termasuk yang ditetapkan dalam Kesepakatan Oslo yang ditandatangani pada tahun 1993.
Acara tahunan ini merupakan kesempatan bagi orang untuk mengekspresikan kemarahan mereka pada rezim apartheid Israel, yang menduduki wilayah Palestina sejak 1967.
Melawan sanksi ekonomi Gedung Putih yang keras terhadap Iran dan Venezuela, Negeri Para Mullah mengirim banyak bahan bakar ke negara Amerika Latin itu.
Tindakan Departemen Keuangan membekukan aset Shanghai Saint Logistics yang dimiliki AS dan menyatakan melanggar hukum bagi warga AS untuk melakukan bisnis dengan perusahaan.
Serangan ini mengikuti lebih dari dua lusin serangan serupa terhadap kepentingan As di Irak sejak Oktober.