Amerika Serikat (AS) menjatuhkan sanksi terhadap delapan entitas pada Kamis (Jumat waktu setempat), atas dugaan keterlibatan mereka dalam penjualan dan pembelian produk petrokimia Iran.
Langkah itu dilakukan sehari setelah AS mengubah perjanjian sains yang ditandatangani dengan Israel untuk mendaftar ke institusi di Tepi Barat.
Pengumunan sanksi itu lima hari menjelang pemilihan presiden AS yang digelar pada 3 November 2020 dan juga muncul di tengah tuduhan komunitas intelijen AS bahwa peretas Iran berusaha mengancam pemilih AS lewat email palsu.
Sebagian besar dari hasil penjualan minyak itu akan disumbangkan ke dana AS untuk korban terorisme yang disponsori negara.
Dukungan karikatur Nabi, serta komentar Presiden Macron, pada 2 Oktober mengatakan Islam berada dalam krisis, telah memicu reaksi balik dari umat Islam di seluruh dunia.
Rabu lalu, Macron mendukung seorang guru Prancis yang menampilkan kartun yang menghina Nabi Muhammad di kelasnya.
Dalam laporan triwulanan IAEA terbaru, IAEA melaporkan Iran pada 25 Agustus telah menimbun 2.105,4 kilogram uranium yang diperkaya rendah, jauh di atas 202,8 kilogram yang diizinkan berdasarkan JCPOA.
Sanksi tersebut berlaku untuk Kementerian Perminyakan Iran, Perusahaan Minyak Nasional Iran dan Perusahaan Tanker Nasional Iran atas dukungan keuangan kepada Korps Pengawal Revolusi Islam Iran-Pasukan Quds.
Pemimpin yang berusia 42 tahun tersebut telah menyatakan perang terhadap separatisme Islam, yang katanya mengambil alih beberapa komunitas Muslim di Prancis.
COVID-19 dapat menyebabkan 600 kematian setiap hari dalam beberapa minggu mendatang jika warga Iran tidak mematuhi protokol kesehatan di negara yang paling parah terkena dampak pandemi di Timur Tengah.