Peneliti dari University of Florida menemukan bahwa orang dewasa dengan lebih banyak kebiasaan sehat memiliki otak yang tampak lebih muda secara biologis. Tak hanya itu, penuaan otaknya juga berlangsung lebih lambat selama dua tahun masa studi.
Penelitian ini menyiratkan bahwa kebiasaan tidur dapat berdampak langsung pada kesehatan otak jangka panjang.
Selama ini, kesehatan sering dipandang sebagai hasil dari pola makan, olahraga, dan genetika. Namun, sebuah studi terbaru menunjukkan bahwa koneksi sosial yang kuat sepanjang hidup juga memainkan peran besar dalam memperlambat proses penuaan.
Temuan menunjukkan bahwa orang yang mengalami gangguan tidur setidaknya tiga kali seminggu selama lebih dari tiga bulan memiliki risiko 40 persen lebih tinggi untuk mengalami penurunan fungsi kognitif ringan atau demensia. Risiko ini tetap signifikan meskipun faktor lain seperti tekanan darah tinggi, apnea tidur, dan konsumsi obat sudah diperhitungkan.
Penuaan kognitif mungkin bermula dari penurunan performa ‘pabrik protein’ di dalam sel otak, jauh sebelum gejala pertama muncul.
Menurut Dr. Marc Milstein, peneliti otak dan penulis buku The Age-Proof Brain, usia otak tidak selalu sejajar dengan usia biologis. Kabar baiknya, otak yang muda dan tajam bukan sekadar anugerah genetik—ada kebiasaan harian yang bisa Anda lakukan untuk mencapainya.
Studi Terbaru: Vitamin C Aktifkan Gen Kulit dan Lawan Penuaan dari Tingkat Seluler
Perempuan yang rutin mengonsumsi kopi berkafein saat usia paruh baya berpeluang lebih besar untuk menua dengan sehat—baik secara fisik, mental, maupun emosional
Rahasia umur panjang, mengapa sebagian orang tetap sehat hingga usia 100 tahun lebih?
Suplemen vitamin D tak hanya baik untuk tulang—ternyata juga bisa memperlambat penuaan pada tingkat seluler. Hal ini terungkap dalam studi VITAL, sebuah uji klinis besar yang melibatkan ribuan orang dewasa usia 50 tahun ke atas di Amerika Serikat.