Koalisi pimpinan Amerika Serikat melakukan serangan udara pekan lalu di Suriah, kurang dari seminggu setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan penarikan pasukan dari negara konflik tersebut.
Pasukan AS tidak pernah memasuki pertempuran nyata dan bermakna melawan kelompok Islamic State Iraq and Syria (ISIS).
McGurk, merupakan utusan AS untuk koalisi yang memerangi ISIL (ISIS, Red), mengundurkan diri minggu ini karena ketidaksetujuannya dengan keputusan mengejutkan Trump menarik pasukan AS keluar di Suriah.
Penarikan pasukan AS konon memiliki konsekuensi geopolitik yang luar biasa. Para pejuang Kurdi yang selama ini didukung AS bernasib tidak pasti. Ribuan di antaranya diperkirakan tetap tinggal di Suriah.
Sekitar 300 warga sipil juga tewas, banyak di antaranya dalam serangan udara koalisi, dan ribuan orang terpaksa mengungsi dari rumah mereka.
Bukan hanya pelaku kekerasan yang bertanggung jawab atas kejahatan mereka, tetapi juga mereka yang memalingkan wajah.
Tahun lalu, otoritas Irak menyatakan bahwa keberadaan ISIS di negara itu telah diberangus
Pria itu juga dituduh mempromosikan keanggotaan ISIS kepada sesama pekerja migran.
Pelaku penyerangan, menurut laporan investigasi polisi, terinspirasi oleh ISIS tetapi tidak memiliki koneksi secara langsung dengan ISIS.
200 kuburan massal yang memuat hingga 12.000 di Irak