COVID-19 telah menewaskan sekitar 3,9 juta orang dan mengoyak ekonomi global, dengan infeksi dilaporkan di lebih dari 210 negara dan wilayah sejak kasus pertama diidentifikasi di China pada Desember 2019.
Ribuan orang telah tewas sejak konflik meletus, 2 juta orang terpaksa meninggalkan rumah mereka dan 91 persen dari populasi hampir 6 juta membutuhkan bantuan, menurut laporan terbaru oleh Kantor PBB untuk Urusan Koordinasi Kemanusiaan.
Kunjungan itu dilakukan setelah protes diplomatik baru-baru ini yang dilakukan Filipina atas apa yang dikatakannya sebagai kehadiran ilegal ratusan kapal milisi maritim China di dalam zona ekonomi eksklusifnya dan di dekat pulau-pulau yang didudukinya.
Negara Bagian Kayah, Myanmar terancam mengalami bencena kelaparan yang memicu kematian, akibat aktivitas militer memaksa lebih dari 100.000 orang meninggalkan rumah untuk menghindari konflik.
Rekam Jejak Megawati dalam Demokratisasi Pendidikan Indonesia hingga Peran Damaikan Laut China Selatan
WSJ pada Senin mengutip orang-orang yang akrab dengan laporan rahasia oleh laboratorium nasional pemerintah AS yang mengatakan, itu menyimpulkan bahwa hipotesis kebocoran virus dari laboratorium China di Wuhan masuk akal dan pantas untuk diselidiki lebih lanjut.
Dalam beberapa bulan terakhir, Beijing telah meningkatkan tekanan terhadap Taiwan, termasuk mengirim jet tempur ke zona pertahanan udara pulau itu.
Tidak seperti biasanya, senator tersebut melakukan perjalanan dengan pesawat kargo C-17 Globemaster III Angkatan Udara AS, daripada jet pribadi tanpa tanda seperti yang umumnya terjadi pada pengunjung senior AS.
Perusahaan telah menyelesaikan uji coba fase awal vaksin pada anak-anak dan remaja, dengan hasil yang akan segera dipublikasikan di jurnal ilmiah Lancet, tambah juru bicara itu.
Taiwan telah berjuang untuk mempercepat program vaksinasi sementara menangani lonjakan kasus domestik, dengan hanya sekitar 3 persen dari 23,5 juta orang yang telah menerima setidaknya satu suntikan.