Bamsoet menerangkan, salah satu faktor kekuatan ekonomi Indonesia disebabkan karena konsumsi rumah tangga yang sudah membaik sebagai buah keberhasilan dari upaya memutus mata rantai penyebaran virus Covid-19 yang dilakukan pemerintah bersama masyarakat.
Peningkatan kewaspadaan pemerintah dalam menangani pandemi Covid-19 harus dipahami bersama, mengingat potensi munculnya kasus sejumlah penyakit membutuhkan penanganan yang lebih fokus.
Hal ini terbukti dengan rawat inap secara nasional terus turun hingga 97% serta kematian turun hingga 98%.
Warga Indonesia yang telah menerima dosis ketiga atau penguat (Booster) hingga Minggu (8/5/2022) telah mencapai 41 juta jiwa atau 19,69 persen dari total target 208.265.720 jiwa.
Angka tersebut setara dengan 79,53% dari target sasaran vaksin nasional yang ditetapkan sebanyak 208.265.720.
Memasuki era new normal pasca pandemi Covid-19, serta melihat perkembangan geopolitik dunia akibat perang Rusia - Ukraina, sekaligus berbagai kondisi tatanan dunia yang semakin berkembang pesat akibat kemajuan teknologi informasi, membuat BIN juga harus bekerja extra keras.
Jumlah resmi kematian yang secara langsung disebabkan oleh COVID-19 dan dilaporkan ke WHO pada periode itu, dari Januari 2020 hingga akhir Desember 2021, sedikit lebih dari 5,4 juta.
Angka kematian ibu dan anak masih tinggi
Kasus trombosis dengan sindrom trombositopenia (TTS), yang melibatkan pembekuan darah disertai dengan tingkat trombosit yang rendah, sebelumnya telah dilaporkan pada penerima vaksin J&J.
Lembaga Perserikan Bangsa-Bangsa (PBB) yang berbasis di Jenewa pada Kamis (5/5), memperkirakan hingga tiga kali lipat jumlah kematian yang dikaitkan langsung dengan penyakit tersebut.