Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan memenjarakan ratusan perempuan hamil, yang dituduh sebagai pengikut Fethullah Gulen.
Komentar itu disampaikan ketika pasukan pemerintah Suriah membuat kemajuan yang signifikan di provinsi Aleppo di barat laut negara itu.
Kedua tayangan ini dinilai menjadi sarana propaganda Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan, untuk mencitrakan diri sebagai pemimpin muslim di dunia, dan mimpi untuk membangkitkan kekaisaran Ottoman.
Turki mengancam akan melancarkan serangan balik ke Suriah, jika pos-pos militernya di benteng oposisi di Idlib diserang.
Gulen meramalkan pemerintahan Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan akan berakhir seperti jatuhnya rezim Adolf Hitler di Jerman, atau Josep Stalin di Rusia.
Mendukung Pemerintah Kesepakatan Nasional (GNA) Libya bukanlah suatu pilihan, tetapi kewajiban sesuai dengan Resolusi Perserikan Bangsa-Bangsa (PBB) 2259.
Rezim Suriah tidak mematuhi kesepakatan gencatan senjata yang diprakarsai Turki dan Rusia.
Adnan Tanriverdi menyebut ekspansi militer terbaru Turki ke Libya merupakan upaya untuk menyambut datangnya juru selamat, Imam Mahdi.
Kementerian Luar Negeri Rusia mengkonfirmasi bahwa Haftar meninggalkan perundingan tanpa menandatangani rancangan kesepakatan yang telah ditandatangani Sarraj.
Kehidupan seorang wanita tidak akan lengkap jika dia gagal memiliki keturunan.