Saya setuju kasus Kanjuruhan ini membuka tabir kelam kondisi sepak bola Indonesia. Ternyata banyak sekali masalahnya yang harus dibenahi. Contoh nyata yang bisa kita lihat adalah kondisi stadion yang tidak layak standar keamanan FIFA, tapi dipaksakan untuk dipakai. Ini kan bahaya sekali.
Kita harap juga ini jadi cambuk dan peringatan buat kader-kader Golkar untuk menghindari hal-hal seperti itu.
Artinya, kita (Partai Gelora) hanya bisa menggunakan nomor sisa yang belum terpakai. Karena undiannya dibatasi pada sisa nomor.
Rapat-rapat kita di Komisi II dengan pemerintah dan penyelenggara pemilu itu, kita sudah beri masukan supaya para peserta yang sudah ada di DPR seperti PDIP tetap menggunakan nomor yang ada sebelumnya.
Tentang prioritas tadi yang kemarin sudah saya sampaikan, tanggapan dan saran dari Komisi I untuk daerah-daerah yang kerawanannya tinggi khususnya di daerah perbatan laut, darat, yang sekarang ini menjadi kerawanan strategis seperti kita ketahui. Mulai Natuna, Papua, Aceh dan sebagainya.
Tidak ada lembaga atau negara manapun yang memiliki otoritas untuk mendikte hukum kita. Semua kebijakan kita itu harus kita menentukan tidak bisa didrive (disetir) negara asing.
Kita mendorong bagaimana korban-korban bencana ini mendapat tempat yang layak, karena sekarang tempat tinggal mereka hancur atau rusak, ini bagaimana harus cepat.
Benzema ke Timnas Prancis: Dua Laga Lagi Kita Juara!
Kesulitan bahwa ideologi terorisme itu adalah dari alam pikiran. Apakah kita bisa serta merta membaca alam pikiran, isi kepala semua warga bangsa Indonesia. Diantaranya kita saja tidak ada yang tahu apa yang terjadi di alam pikiran kita. Apalagi 273 juta masyarakat Indonesia.
Kita tidak ingin kejadian ini terus berulang terjadi di Indonesia.