Saya pikir ajang silaturahmi itu jangan dikaitkan dengan manuver politik mana pun karena itu hal biasa di negara kita.
Apa yang ingin saya sampaikan, marilah kita meningkatkan kerukunan, meningkatkan ukhuwah, meningkatkan persatuan. Jangan kita mau diadu domba. Segala kehidupan selalu pikirkan itu, kesejukan, ketenangan. Perbedaan pendapat biasa, jangan menjadi perpecahan. Itu yang saya ingin sampaikan pada kesempatan malam hari ini.
Belum tuntas penyelesaian kasus bentrok berdarah antar kelompok pekerja di perusahaan smelter nikel PT. Gunbuster Nickel Industry (GNI), dan kasus beking kegiatan tambang ilegal oleh orang dekat presiden, kita sudah dikejutkan lagi dengan kabar dari Bank Indonesia yang menyatakan dolar hasil ekspor barang tambang tidak masuk ke Indonesia.
Ini adalah contoh yang baik bagaimana kita mempertontonkan dan memberi teladan kepada masyarakat kita meskipun pilihan dan partai masing-masing berbeda tapi kita tetap membicarakan masa depan Indonesia.
Ini delapan partai, kita akan ajak membicarakan teknis detailnya bertempat di sini (Sekber) untuk kita merumuskan langkah-langkah berikutnya.
Kita perlu merujuk pada data-data statistik dan fakta empiris terkait keberhasilan kinerja itu.
Kita harus sungguh-sungguh merumuskan dan menyelesaikan akar masalah dari persoalan ini. Jangan mereduksi dan menutup mata pada persoalan yang lebih substansial dan mendasar. Untuk mengatasi masalah di PT. GNI pemerintah jangan hanya menindak pelaku bentrokan tapi harus juga mengusut kelalaian manajemen menjalankan K3 serta mengaudit secara komprehensif kondisi smelter yang ada.
Kita sebagai bangsa, sebagai warga bangsa itu harus mencari dan menemukan yang paling baik, paling maslahat untuk bangsa secara keseluruhan.
Oleh karena itu saya pikir dinamika yang ada itu juga sudah kita anggap clear apa namanya yang bersangkutan sudah berstatement di depan media begitu.
Sampai saat ini belum ada kejelasan secara tertulis kami termasuk ASN, PNS, honorer, karyawan swasta, atau kuli, kita enggak tahu.