Selanjutnya keenam pemimpin militer itu akan dituntut di pengadilan internasional dengan dakwaan tindakan genosida terhadap minoritas Rohingya.
Sebagian besar anak-anak dan perempuan, melarikan diri dari Myanmar dan menyeberang ke Bangladesh setelah pasukan militer melancarkan tindakan kekerasan terhadap komunitas Muslim minoritas pada 25 Agustus 2017.
Menurut Amnesty International, lebih dari 750.000 pengungsi Rohingya, sebagian besar anak-anak dan perempuan, telah melarikan diri dari Myanmar dan menyeberang ke Bangladesh.
Sebanyak lebih dari 6.000 anak-anak etnis Rohingya yang menyeberang ke Bangladesh, terancam menjadi yatim piatu
Departemen Keuangan AS juga menyatakan militer Myanmar telah melakukan pelanggaran hak asasi manusia lainnya terhadap Muslim Rohingya negara tersebut.
Kelompok tersebut sekarang terjebak di `tanah tak bertuan` sempit yang mengandalkan bantuan internasional yang dikirim oleh Bangladesh.
Komisi empat, terdiri dari dua anggota lokal dan dua anggota internasional, diplomat Filipina Rosario Manalo dan Kenzo Oshima, mantan duta besar Jepang untuk PBB.
Tiga orang imigran Rohingya yakni Kamal Husin (8), Samimah (18) dan Mominah (28), kabur saat melaksanakan shalat tarawih di masjid dekat kantor Imigrasi.
Maung Maung Soe diberhentikan karena buruknya kinerja militer di bawah komandonya dalam menangani situasi saat militan Rohingya.
Pengadilan Pidana Internasional tidak memiliki yurisdiksi di Myanmar, yang bukan merupakan anggota ICC.