Aksi massa yang tergabung dalam Serikat Pekerja Awak Mobil Tangki (SP-AMT) berhasil menghadang iring-iringan mobil Presiden Jokowi, saat melintas di Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta, Rabu (13/2) malam.
Pawai dimulai di lebih dari 1.000 kota dan 10.000 desa di seluruh Negeri Para Mullah. Dinginnya musim dingin, hujan dan salju tidak menjadi penghalang mereka mengikuti aksi tersebut.
Ironisnya, setelah kejadian ini tak ada sepatah ucapan kata maaf pun yang terlontar dari kelima siswa itu.
Seorang kakek tega mencabuli cucunya sendiri yang sedang sakit dan kelelahan. Aksi bejatnya itu dipergoki sang istri.
Para demonstran meneriakkan slogan-slogan seperti "Kebebasan untuk Turkestan Timur", "Kebebasan untuk Uyghur", dan "Berhenti membunuh orang-orang Uyghur".
Pidato itu muncul setelah ia meresmikan jalan raya baru sepanjang 340 kilometer yang menghubungkan Kordofan Utara ke Omdurman, kota kembar Khartoum.
Dikutip dari AFP, ledakan terjadi ketika para korban sedang tidur sebelum fajar. Mindanao sendiri merupakan rumah bagi minoritas Muslim Filipina.
Polisi bersama Satpam melakukan aksi donor darah yang diperuntukkan kepada masyarakat.
Isu-isu intoleransi lengkap dengan letupan rasisme belakangan ini bermunculan di berbagai pemberitaan nasional maupun internasional.
Dalam kesempatan itu Hidayat juga mempertemukan Badr Al Sumaith dengan perwakilan dari Aksi Cepat Tanggap (ACT), Rumah Zakat, dan PKPU Human Initiative.