Hal ini disampaikan oleh Dirjen Pendidikan Islam Kementerian Agama (Kemenag) Muhammad Ali Ramdhani pada Sabtu (7/11).
Kegiatan madrasah tidak hanya di ruang kelas dan laboratorium, tetapi merupakan proses pembelajaran yang berkelanjutan.
Kepala Bagian Perencanaan Direktorat Pendidikan Islam (Pendis), Ridwan, menyebut masing-masing siswa raudhatul athfal (RA) akan mendapatkan 20 gigabyte per bulan.
Tak hanya madrasah dan PTKI, Kemenag juga akan menyalurkan bantuan kuota kepada satuan pendidikan Kristen, Katolik, Hindu, Buddha dan Khonghucu.
Sistem ini sudah didiklatkan kepada 15.422 madrasah yang menjadi pilot project pada 2020, untuk selanjutnya diaplikasikan tahun depan.
Tambahan anggaran yang diusulkan dan disetujui sekitar Rp890 miliar. Anggaran ini akan didistribusikan untuk BOS 3.894.365 siswa MI, 3.358.773 siswa MTs, dan 1.495.294 siswa MA.
Ketiga skema tersebut ialah, pertama pembelajaran jarak jauh (PJJ) murni, dengan memanfaatkan pembelajaran virtual baik melalui konferensi video maupun e-learning madrasah.
Gambaran itu, lanjut Ramdhani, diperoleh setelah Kemenag bersama UNICEF Indonesia, GIZ, dan SNV Indonesia berhasil menganalisa data Education Management Information System (EMIS) dan menghasilkan Profil Sanitasi Madrasah 2020.
Direktorat Kurikulum, Sarana, Kelembagaan, dan Kesiswaan (KSKK) Madrasah akan mengembangkan madrasah berbasis riset.
Wakil Menteri Agama Zainut Tauhid Sa’adi mengatakan anggaran untuk bantuan tersebut saat ini dalam proses pengalihan dari Kementerian Tenaga Kerja ke Kementerian Keuangan, untuk selanjutnya diserahkan ke Kementerian Agama.