Negara dinilai sudah hadir mengatasi berbagai aksi terorisme di tanah air. Aksi teror beruntun di Markas Mako Brimob, Depok dan pemboman tiga gereja di Surabaya, sudah diatasi dengan baik oleh aparat penegak hukum seperti Kepolisian, Densus 88, Gegana, BNPT, dan BIN.
Pemerintah Amerika Serikat dan Inggris ternyata ingin belajar kepada Indonesia bagaimana menangani terorisme. Kedua negara besar itu mengapresasi cara Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) mencegah dan menindak terorisme di Tanah Air.
Bibit-bibit terorisme kerap muncul dari masyarakat yang tinggal di perkampungan. Ini perlu dicermati oleh Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT).
Ujaran kebencian yang kerap muncul dari media sosial (medsos) sangat berpotensi menjadi bibit terorisme. Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) perlu jeli mengamati pergerakan ujaran kebencian di berbagai medsos.
Sekretaris Jenderal (Sekjen) Koalisi Perempuan Indonesia (KPI), Dian Kartikasari menyebut perempuan di Indonesia rentan dipengaruhi paham-paham radikalisme.
Akibat globalisasi itu nilai-nilai tradisional Islam banyak tergerus dan terbawa ideologi transnasional.
Teroris kerap kali membungkus doktrin mereka lewat ajaran-ajaran agama, sehingga mudah menjaring anak-anak yang baru mengenal agama.
Kepala BNPT mengatakan, sejauh ini diketahui mereka yang dideportasi oleh otoritas pemerintah Turki ada sebanyak 75 WNI.
Imparsial meminta BNPT menentukan formula tepat menyadarkan narapidana terorisme.