Mari kita kembali merajut persatuan, waktunya untuk bekerja bersama-sama untuk Indonesia Maju dan Sejahtera.
Kita perlu mengambil langkah yang menumbuhkan ‘growth’ negara, dengan belanja produktif. Kita juga perlu melakukan ekspor komoditas yang mengimbangi kelemahan rupiah.
Diplomasi ekonomi ini baik menteri luar negeri maupun menteri-menteri yang di sektor ekonomi itu harus aktif melakukan diplomasi ekonomi ke berbagai negara yang kita punya hubungan perdagangan baik kita mengekspor maupun kita mengimpor.
Kita tunggu saja. Namun, yang pasti, prinsip kami adalah bahwa kami mendukung persatuan nasional. Kedua, kalau elite politiknya rukun, senang juga ‘kan, rakyat juga senang.
Kita sampaikan beberapa rencana dan capaian selama beberapa tahun tentu juga kita evaluasi kekurangannya.
Kita sedang berusaha menyatukan pilkada dengan partai-partai koalisi, karena ini kan pilkada serentak. Bagaimana gubernur, bupati, walikota yang kita usung, bisa sukses di daerah pemilihan yang kita ajukan.
Sehingga (melalui deeskalasi) diharapkan tidak menciptakan satu konflik lebih luas dan perang lebih besar yang melibatkan lebih banyak negara. Jadi saya kira sikap kita seharusnya adalah bagaimana `de-eskalasi` itu.
Kita menyampaikan, karena ini ada aspirasi masyarakat juga. Karena masyarakat kita sekarang ini juga melalui budaya, melalui drama korea, film-film korea, melalui K-Pop. Jadi banyak sekali yang mereka ingin datang ke Korea dan ingin visanya itu mudah.
Pengamanan (selama arus balik lebaran) telah dilakukan dengan baik. Ini membanggakan ya. Kalau kita lihat data dari Dirlantas (Polri) ada pengurangan kejadian kecelakaan.
Kita pasti memahami tujuan menyambung apa-apa yang tadi kusut menjadi tersambung kembali, baik dari sisi ukhuwah islamiyah, ukhuwah wathoniyah, dari sisi ukhuwah insaniyah.