Dua kata kunci yang menjadi fokus program kerja Duta Baca Indonesia (DBI) Gol A Gong sejak dikukuhkan oleh Kepala Perpustakaan Nasional Muhammad Syarif Bando adalah kolaborasi dan integrasi.
Sebagai bentuk hasil budaya, setiap lukisan yang tercipta selalu terselip literasi secara tersirat dan tersurat
Bung Karno kerap minta saran KH. Hasyim Asy’ari
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) memutuskan menarik Kamus Sejarah RI Jilid I, yang menuai polemik gara-gara tidak memasukkan nama pendiri Nahdlatul Ulama Hadratussyaikh Kiai Hasyim Asy`ari.
Kartini menunjukkan keteladanan dalam berliterasi. Untuk membuka tabir kegelapan atas dirinya, Kartini dengan tingkat literasinya membuat buku “Habislah Gelap Terbitlah Terang”
agar perpustakaan di sebuah sekolah dapat terkelola dengan baik, maka pengelola perpustakaan harus mampu meyakinkan kepada seluruh pengajar di sekolah itu, bahwa persoalan di sekolah yang menyebabkan tidak naik kelas adalah kurang membaca.
Gus Jazil mengajak peserta untuk menelaah sebagai pembelajaran bagus, pidato pembukaan Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari ketika Muktamar NU Ke-17 di Madiun Tahun 1947 seputar `menghidupkan kembali perilaku orang-orang mulia`.
pertukaran budaya antara kedua negara ini mendorong masyarakat untuk menjelajahi budaya, tradisi, adat istiadat, kepercayaan, masyarakat, dan bahasa lain.
Kepala Perpustakaan Nasional (Perpusnas) RI Muhammad Syarif Bando menyerahkan bantuan mobil perpustakaan keliling (MPK) sekaligus meresmikan pojok baca digital (Pocadi) untuk Kabupaten Dairi, Sumatera Utara.
Karya dan pemikiran KH. Hasyim Asy`ari dan para Kiai NU sangat perlu untuk diperdalam generasi muda