https://www.jurnas.com/images/img/conf-Jurnas_11.jpg
Beranda News Ekonomi Ototekno Hiburan Gaya Hidup Olahraga Humanika Warta MPR Kabar Desa Terkini

Kemajemukan Indonesia Merupakan Daya Hidup Bangsa

Herwin Wijaya | Selasa, 12/12/2017 06:40 WIB



Keragaman suku, identitas budaya lokal, religi yang beraneka ragam di Indonesia merupakan sumber mata air, daya hidup bangsa Indonesia. Romo Mudji dalam acara Simposium Nasional MPR RI 2017 di Gedung Nusantara IV, Kompleks Gedung MPR/DPR/DPD, Senayan, Jakarta, Senin (11/12)

Jakarta - Pada sesi diskusi dalam gelar acara Simposium Nasional MPR RI 2017, Senin (11/12) dengan tema Mencari Kesamaan Visi Antar Pemeluk Agama Untuk Kebersatuan Indonesia, Romo Mudji seorang tokoh agama, Budayawan, Guru Besar STF Driyakarya dan Dosen Pasca Sarjana Universitas Indonesia membawakan materi soal Kemajemukan.

Dalam paparannya, Romo Mudji menerangkan bahwa keragaman suku, identitas budaya lokal, religi yang beraneka ragam di Indonesia merupakan sumber mata air, daya hidup bangsa Indonesia. Indonesia secara kultural hanya akan terus ada dan eksis bila terus menenun keragamannya sebagai bangsa menjadi negara Republik Indonesia yang bersatu dan berdaulat seperti yang tertulis dalam mukadimah konstitusi 1945.

"Kemajemukan dan keikaan ketika diformat menjadi jalan politik. Ini harus dipahami, politik sebenarnya sebagai usaha dan ikhtiar untuk membuat tata hidup bersama lebih berharkat dalam masyarakat dan pasti akan memuat etika sebagai acuan yang baik," katanya.

Baca juga :
MPR Terapkan WFH-WFA dan Pembatasan Listrik Mulai 1 April

Itulah, lanjut Romo, politik yang beretika yang sesungguhnya. Bangsa Indonesia pantas bersyukur karena para pendiri bangsa sudah memberikan dasar-dasarnya dalam proses dari bangsa majemuk ke negara kesatuan. Politik etis religiusnya jelas ada yakni di sila pertama dari lima sila Pancasila.

"Para pendiri bangsa sudah sangat bijaksana sekali mengelola. Disatu pihak kemajemukan dan dilain pihak harus ada keputusan yang melegakan kebenaran bersama dari kebenaran masing-masing yang beda kepentingan. Mereka bijaksana karena `inti kebenaran` itu tidak bisa divoting. Alasannya antara lain, kebenaran utuh itu hanya satu yaitu Tuhan sebagai kebenaran ilahi. Sedangkan kebenaran-kebenaran insani itu parsial, terbatas, relatif dan berlapis-lapis," tandasnya.

Baca juga :
Legislator PKS: Salah Langkah Diplomasi Bisa Ganggu Ekspor dan Fiskal
Ikuti Update jurnas.com di

Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1

KEYWORD :

Warta MPR

https://journals.daffodilvarsity.edu.bd/?login=

toto macau

dota777 pulsa777 daftar pulsa777