Penggunaan pupuk. (Foto: ist)
Jakarta, Jurnas.com - Sebuah penelitian terbaru mengungkap bahwa urine manusia dapat diolah menjadi sumber pupuk yang kaya nutrisi dengan teknologi penyaringan berenergi rendah. Temuan ini membuka peluang baru dalam pengelolaan limbah sekaligus produksi pupuk yang lebih berkelanjutan.
Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Journal of Environmental Chemical Engineering ini menunjukkan bahwa cairan yang selama ini dianggap limbah justru menyimpan potensi besar untuk mendukung pertanian.
Urine hanya menyumbang sekitar 1 persen dari total limbah rumah tangga, tetapi mengandung sebagian besar nitrogen dan fosfor dalam air limbah domestik. Selama ini, zat-zat tersebut justru harus dihilangkan kembali di instalasi pengolahan limbah dengan biaya energi dan bahan kimia tambahan.
Dalam studi ini, tim peneliti berhasil memekatkan urine menjadi cairan kaya nutrisi yang dapat digunakan sebagai pupuk.
“Penelitian kami menunjukkan bahwa dengan pendekatan pengolahan yang tepat, kita dapat memulihkan nutrisi ini secara efisien sekaligus mengurangi kebutuhan energi dalam pengolahan air limbah,” kata Dr. Siddharth Gadkari, salah satu peneliti, dari University of Surrey.
Berbeda dari sistem filtrasi konvensional, metode ini menggunakan konsep forward osmosis, yaitu perpindahan air melalui membran menuju larutan yang lebih pekat.
Pendekatan ini tidak memerlukan tekanan tinggi, sehingga lebih hemat energi. Air dipisahkan dari urine, sementara nutrisi penting tetap tertinggal dalam volume cairan yang lebih kecil dan lebih terkonsentrasi.
Namun, tidak semua unsur berhasil ditangkap sepenuhnya. Sebagian nitrogen dan kalium masih lolos dalam proses tersebut.
Salah satu kendala terbesar dalam sistem ini adalah fouling atau penyumbatan membran akibat penumpukan mikroba dan bahan organik.
Seiring waktu, kinerja sistem menurun karena aliran air menjadi lebih lambat. Namun, peneliti menemukan bahwa masalah ini tidak bersifat permanen.
Dengan pembersihan sederhana dan perlakuan kimia, sekitar 91 hingga 98 persen kinerja awal dapat dipulihkan.
“Yang sangat menarik adalah kami berhasil menunjukkan bagaimana sistem ini bekerja dalam kondisi nyata menggunakan urine manusia asli,” ujar Gadkari.
Penelitian juga menemukan bahwa penyaringan awal untuk menghilangkan partikel kasar dapat значительно meningkatkan kinerja sistem. Tanpa proses ini, penurunan aliran air bisa mencapai 60 persen, sementara dengan penyaringan hanya sekitar 37 persen.
Selain itu, kondisi penyimpanan urine juga berpengaruh. Urine yang diawetkan dengan asam sitrat cenderung menghasilkan lebih sedikit penyumbatan dibandingkan urine yang disimpan biasa.
Konsep ini menjadi lebih relevan jika urine dipisahkan sejak awal, misalnya melalui toilet khusus. Kota seperti Durban di Afrika Selatan telah menerapkan sistem pemisahan urine dalam program sanitasi mereka.
Penelitian sebelumnya juga menunjukkan bahwa urine yang dipisahkan dapat digunakan sebagai pupuk untuk tanaman seperti jelai.
Jika tantangan teknis seperti penyumbatan dan kadar garam dapat diatasi, sistem ini berpotensi menghubungkan langsung sanitasi dengan produksi pupuk lokal.
Meski menjanjikan, masih ada tantangan lain seperti peningkatan kadar garam dalam hasil akhir serta kebutuhan sistem distribusi dan penyimpanan yang aman.
Keberhasilan penerapan teknologi ini tidak hanya bergantung pada proses filtrasi, tetapi juga pada seluruh rantai sistem, mulai dari desain toilet hingga penggunaan pupuk di lahan pertanian.
Temuan ini mengubah cara pandang terhadap limbah cair. Alih-alih dibuang, urine justru bisa menjadi sumber daya berharga.
Ke depan, tantangan terbesar bukan lagi pada teknologi, tetapi pada bagaimana kota-kota dapat membangun sistem yang cukup kuat untuk menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Selasa, 14/04/2026 21:18 WIB
Senin, 20/04/2026 19:05 WIB