https://www.jurnas.com/images/img/conf-Jurnas_11.jpg
Beranda News Ekonomi Ototekno Hiburan Gaya Hidup Olahraga Humanika Warta MPR Kabar Desa Terkini

Studi Ungkap Biodiversitas Tanaman Eropa Justru Runtuh Pasca Black Death

Agus Mughni | Sabtu, 14/03/2026 18:02 WIB



Sebuah penelitian terbaru mengungkap sisi tak terduga dari dampak pandemi Black Death di Eropa terhadap keanekaragaman tanaman Tanaman terlihat di ladang jelai di sebuah peternakan dekat Moree, sebuah kota pedalaman di New South Wales, Australia 27 Oktober 2020. Foto diambil 27 Oktober 2020. REUTERS/Jonathan Barrett/File Foto

Jakarta, Jurnas.com - Sebuah penelitian terbaru mengungkap sisi tak terduga dari dampak pandemi Black Death di Eropa. Alih-alih memulihkan alam ketika populasi manusia menyusut drastis pada abad ke-14, keanekaragaman tanaman justru mengalami penurunan tajam selama lebih dari satu abad setelah pandemi tersebut.

Studi yang dipimpin oleh peneliti Jonathan Gordon dari University of York menemukan bahwa penurunan populasi manusia dan ditinggalkannya lahan pertanian menyebabkan keruntuhan biodiversitas tanaman di banyak wilayah Eropa. 

Dilutip dari Earth, untuk menelusuri perubahan ekosistem masa lalu, para peneliti menganalisis lebih dari 100 catatan serbuk sari yang tersimpan di sedimen dan lahan gambut di berbagai wilayah Europe.

Baca juga :
Letusan Gunung Diduga Picu Black Death, Wabah Tewaskan Puluhan Juta Orang

Serbuk sari yang terawetkan ini menjadi “arsip alami” yang menunjukkan jenis tanaman apa saja yang pernah tumbuh di lanskap sekitar sebelum dan sesudah pandemi.

Hasilnya menunjukkan perubahan drastis: ketika ladang-ladang ditinggalkan dan praktik pertanian tradisional berhenti, keragaman tanaman langsung merosot. Penurunan itu bertahan sekitar 150 tahun sebelum perlahan pulih seiring kembalinya populasi manusia dan aktivitas bertani.

Pemulihan baru mulai terlihat ketika populasi manusia kembali meningkat dan kegiatan pertanian dilanjutkan kembali, sebuah proses yang memakan waktu sekitar 300 tahun untuk kembali ke tingkat sebelum wabah,” kata Gordon.

Selama ini, banyak ilmuwan berasumsi bahwa alam akan pulih secara alami ketika manusia meninggalkan suatu wilayah. Namun penelitian ini menunjukkan gambaran yang lebih kompleks.

Ketika aktivitas manusia seperti membajak, menggembalakan ternak, memotong rumput, dan membersihkan semak berhenti, lahan terbuka perlahan berubah menjadi hutan. Kanopi pohon yang semakin rapat menutup cahaya matahari di permukaan tanah, sehingga bunga liar dan tanaman kecil yang biasa tumbuh di area terbuka kehilangan habitatnya.

Akibatnya, mosaik lanskap yang sebelumnya terdiri dari ladang, padang rumput, tepi hutan, dan lahan basah menyusut menjadi kawasan hutan yang lebih homogen.

Temuan ini juga menunjukkan bahwa selama lebih dari seribu tahun sebelum wabah, keanekaragaman tanaman di Eropa justru meningkat bersamaan dengan meluasnya praktik pertanian.

Pada masa abad pertengahan, sistem pertanian umumnya bersifat campuran: lahan tanaman pangan, padang rumput, hutan kecil, kolam, dan area liar berada berdampingan dalam satu lanskap.

Kombinasi ini menciptakan berbagai kondisi mikro, baik cahaya, kelembapan, dan gangguan tanah, yang memungkinkan banyak spesies tanaman hidup berdampingan.

Dengan kata lain, manusia tidak hanya mengurangi alam, tetapi juga tanpa sadar menciptakan kondisi yang mendukung keragaman spesies.

Pandemi Black Death menewaskan sekitar sepertiga hingga setengah populasi Eropa, tetapi dampaknya tidak merata. Wilayah yang mengalami penurunan populasi paling drastis juga mengalami penurunan biodiversitas tanaman paling tajam.

Sebaliknya, daerah yang tetap mempertahankan aktivitas pertanian tidak mengalami keruntuhan keanekaragaman tanaman dalam skala yang sama.

Hal ini menjelaskan mengapa narasi sederhana tentang “alam yang pulih ketika manusia pergi” tidak selalu berlaku di seluruh Eropa.

Penelitian ini juga menantang konsep rewilding, yaitu pendekatan konservasi yang mengurangi campur tangan manusia agar alam pulih secara alami.

Menurut studi yang diterbitkan dalam jurnal ilmiah Ecology Letters ini, strategi tersebut tidak selalu berhasil di lanskap yang selama berabad-abad berkembang bersama aktivitas manusia.

Di Eropa, beberapa bentang alam yang kaya biodiversitas justru bergantung pada praktik tradisional seperti penggembalaan ringan, pemotongan rumput, atau pertanian skala kecil.

Sebaliknya, penelitian lain menunjukkan bahwa pertanian modern yang intensif—dengan monokultur luas, pestisida, dan pupuk kimia—justru merusak biodiversitas karena menyederhanakan lanskap.

Para peneliti menyimpulkan bahwa keanekaragaman tanaman paling tinggi terjadi pada lanskap “mosaik” yang memadukan berbagai penggunaan lahan: ladang, hutan, padang rumput, kolam, dan semak belukar.

Untuk mempertahankan keragaman hayati yang luas di lanskap Eropa, diperlukan lanskap mosaik di mana tanaman, hutan, padang rumput, kolam, dan danau hidup berdampingan dalam satu lingkungan,” kata Gordon.

Eksperimen alam yang tercipta setelah pandemi Black Death menunjukkan satu pelajaran penting: meninggalkan alam sepenuhnya tidak selalu menghasilkan keanekaragaman hayati yang lebih tinggi.

Bagi konservasi modern, tantangan utamanya adalah menentukan kapan manusia harus mundur dari alam—dan kapan justru kehadiran manusia yang terkelola dengan baik membantu menjaga kehidupan tetap beragam.

Ikuti Update jurnas.com di

Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1

KEYWORD :

Keanekaragaman Tumbuhan Black Death biodiversitas tanaman

Terkini | Kamis, 16/04/2026 17:29 WIB

News

Arif Rahman Diganjar Legislator Fokus Kesejahteraan Petani dan Nelayan

News

Ketua Ombudsman Terima Rp1,5 Miliar dari Bos Tambang Nikel

Info Desa

Ekspedisi Patriot 2026 Difokuskan ke Papua, Kementrans Libatkan 10 Kampus

News

Ketua Ombudsman Jadi Tersangka, Terbitkan Rekomendasi Khusus untuk PT TSHI

News

Lima Kali Gagal Mediasi, KLB Dinilai Jalan Keluar Konflik KOWANI

News

Gagas LBH Digital, Rizki Faisal Dapat Penghargaan dari Wartawan Parlemen

News

Rieke Minta Akses Lintas Udara Dikaji Secara Hati-hati dan Berdaulat

News

Sri Lanka Tangkap Sembilan WN China, Diduga Selundurkan Alat Scam

News

Iran Tawarkan Pembukaan Jalur Alternatif di Selat Hormuz, Ini Syaratnya

News

Panglima Militer Pakistan Tiba di Iran Bawa Pesan Rahasia dari AS

News

Australia Amankan Pasokan 100 Juta Liter Diesel dari Brunei dan Korsel

Gaya Hidup

Langkah untuk Memulihkan Mata Lelah Akibat Gadget

News

Dorong Gencatan Senjata, Trump Sebut Israel dan Lebanon Bertemu Hari Ini

News

Silaturahmi ke Menhut, PT Eco Power Nusantara Jajaki Proyek Investasi Hijau

Gaya Hidup

16 Ucapan HUT Kopassus 2026 yang Penuh Makna

News

Terancam Krisis Avtur, Uni Eropa Siapkan Rencana Darurat

Olahraga

Martinelli Siap Bawa Arsenal Melangkah Lebih Jauh di Liga Champions

News

Militer AS Kembali Serang Kapal di Pasifik Timur, Tiga Orang Tewas

https://journals.daffodilvarsity.edu.bd/?login=

toto macau

dota777 pulsa777 daftar pulsa777