https://www.jurnas.com/images/img/conf-Jurnas_11.jpg
Beranda News Ekonomi Ototekno Hiburan Gaya Hidup Olahraga Humanika Warta MPR Kabar Desa Terkini

Studi: Sebagian Tikus Rela Ambil Risiko Demi Makanan Berkualitas

Agus Mughni | Rabu, 21/01/2026 10:12 WIB



Penelitian terbaru menunjukkan bahwa sebagian tikus liar rela mengambil risiko, mempertaruhkan keselamatan, demi kualitas makanan yang lebih tinggi Gambar tikus (foto: Pixabay)

Jakarta, Jurnas.com - Penelitian terbaru menunjukkan bahwa sebagian tikus liar rela mengambil risiko, mempertaruhkan keselamatan, demi kualitas makanan yang lebih tinggi.

Studi yang dilakukan selama dua tahun oleh peneliti Universitas Nagoya ini mengamati perilaku tikus di alam liar melalui stasiun pakan berisi kacang kastanye. Setiap stasiun menyediakan kastanye sehat dan kastanye yang telah rusak akibat larva ngengat, sementara kamera infra merah merekam setiap keputusan tikus di kegelapan malam.

Hasilnya menunjukkan dua strategi bertahan hidup yang kontras. Sebagian tikus langsung mengambil kastanye terdekat dan pergi hanya dalam satu hingga dua detik, sementara yang lain berhenti sejenak, mengendus beberapa pilihan, lalu memilih dengan waktu sekitar lima detik.

Baca juga :
Kenapa Kita Terjebak Keputusan Buruk? Studi Ungkap Peran Isyarat Otak

Perbedaan waktu itu penting karena predator seperti burung hantu dan musang aktif berburu di malam hari. Semakin lama tikus diam di satu tempat, semakin besar risiko diserang, namun tikus yang lebih “sabar” terbukti lebih sering membawa pulang kastanye berkualitas baik.

Dari 125 kejadian pengambilan makanan yang terekam, tikus yang meluangkan waktu untuk menginspeksi makanan secara konsisten memilih kastanye yang tidak rusak. Temuan ini berlaku pada dua spesies tikus hutan Jepang yang diteliti, menunjukkan perilaku tersebut bukan perbedaan spesies, melainkan pilihan individu.

Baca juga :
Orang dengan IQ Tinggi Lebih Jago Ambil Keputusan Hidup, Ini Alasannya

Peneliti kemudian membedah kastanye yang rusak untuk memahami apa yang dideteksi tikus. Sebanyak 95 persen kastanye yang terinfeksi larva ternyata masih menyisakan sebagian besar daging buah, namun mayoritas menunjukkan perubahan warna dan mengandung kotoran larva yang diduga memengaruhi aroma.

Karena aktivitas mencari makan berlangsung dalam kondisi minim cahaya, penciuman menjadi alat utama tikus untuk menilai kualitas makanan. Kamera sering merekam tikus menundukkan kepala dan mengendus berulang kali sebelum memutuskan.

Meski demikian, hampir semua kastanye habis diambil hingga pagi hari. Kastanye tetap aman dikonsumsi dan tidak mengandung zat berbahaya seperti tanin pada biji ek, sehingga bahkan pilihan terburuk pun masih bernilai gizi.

Menurut peneliti, tidak ada satu strategi yang sepenuhnya benar atau salah. Tikus yang cepat mengurangi risiko dimangsa, sementara tikus yang selektif memperoleh asupan lebih berkualitas, dan keduanya sama-sama bertahan hidup.

Perilaku ini juga berdampak pada ekosistem. Dengan memindahkan dan menyimpan kastanye, tikus berperan penting dalam penyebaran biji dan regenerasi hutan, sehingga pilihan individu dapat memengaruhi pola pertumbuhan tanaman dalam jangka panjang.

Para peneliti menilai temuan ini memberi gambaran tentang bagaimana hewan menyeimbangkan risiko dan manfaat dalam pengambilan keputusan. Dilema yang dihadapi tikus hutan ini, menurut mereka, bukan hal asing bagi manusia: memilih cepat demi aman, atau meluangkan waktu demi hasil yang lebih baik. (*)

Studi ini dipublikasikan dalam jurnal Scientific Reports. Sumber: Earth 

Ikuti Update jurnas.com di

Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1

KEYWORD :

Perilaku Tikus Makanan Berkualitas Tikus Liar Pengambilan Keputusan

https://journals.daffodilvarsity.edu.bd/?login=

toto macau

dota777 pulsa777 daftar pulsa777