https://www.jurnas.com/images/img/conf-Jurnas_11.jpg
Beranda News Ekonomi Ototekno Hiburan Gaya Hidup Olahraga Humanika Warta MPR Kabar Desa Terkini

Kenali, Ini Jenis-jenis Perundungan yang Makin Marak di Dunia Maya

Syafira | Kamis, 25/05/2023 11:31 WIB



Kenali, Ini Jenis-jenis Perundungan yang Makin Marak di Dunia Maya Ilustrasi mendapat perudungan di dunia maya (Foto : Boldsky.com)

Jurnas.com – Sejumlah madrasah dan pondok pesantren di Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB), mengikuti webinar literasi digital yang digelar Kementerian Komunikasi dan Informatika bersama Kanwil Kementerian Agama Provinsi NTB, Kamis (25/5). Dengan cara nobar (nonton bareng), mereka belajar mengenal jenis cyberbullying yang kerap terjadi di dunia maya.

Sejumlah madrasah dan pondok pesantren (ponpes) menjadi peserta diskusi virtual pagi tadi. Di antaranya: Ponpes Darul Ulum Beraim, Ponpes Al Hannahiyah NW, Ponpes Nurul Qur’an, Ponpes Islahul Ikhwan NW Mispalah, dan Ponpes Nujumul Huda. Sedangkan dari madrasah, ikut bergabung antara lain: MTs Raudlatul Ma’arif Bibie, MA dan MTs Nurul Haq, MTs-MA Darul Habibie NWDI, dan MA-MTs Nidaurrahman.

Dalam diskusi bertajuk ”Kenali Jenis Cyberbullying di Dunia Maya” itu, Kepala Bidang Pendidikan Madrasah Kanwil Kementerian Agama Provinsi NTB Muhammad Amin mengatakan, perundungan atau bullying tak cuma terjadi di dunia nyata. Tapi juga banyak terjadi di dunia maya (cyberbullying).

Baca juga :
Australia Tegur Keras Roblox dan Minecraft, Wajib Laporkan Hal Ini

”Kini, banyak terjadi perundungan dengan menggunakan teknologi digital. Perundungan di dunia maya umumnya terjadi di media sosial, platform chatting, platform bermain game maupun ponsel,” ujar Amin dalam webinar yang dipandu moderator Fitta Mamita itu.

Cyberbullying, lanjut Amin, adalah perilaku agresif. Biasanya dilakukan secara berulang-ulang dari waktu ke waktu, terhadap seseorang yang dianggap tidak mudah melakukan perlawanan atas tindakan tersebut. ”Jadi, terdapat perbedaan kekuatan antara pelaku dan korban. Perbedaan kekuatan dalam hal ini merujuk pada sebuah persepsi kapasitas fisik dan mental,” imbuhnya.

Baca juga :
NetBlocks: Pemadaman Internet di Iran Jadi yang Terlama sepanjang Sejarah

Amin menegaskan, sebagai kejahatan yang dilakukan secara sengaja di dunia maya, perundungan bisa berbentuk fitnah, cemooh, kata-kata kasar, pelecehan, ancaman, dan hinaan. Bentuk kejahatan ini bermula dari perilaku merendahkan martabat dan mengintimidasi orang lain melalui dunia maya.

”Tujuannya agar target mengalami gangguan psikis. Model bullying terbaru ini justru lebih berbahaya, karena dapat dilakukan siapa saja, kapan saja, dan di mana saja,” jelas Muhammad Amin.

Baca juga :
Breakup Day dan Cara Baru Memaknai Perpisahan

Jenis cyberbullying, masih menurut Muhammad Amin, bisa berupa flamming (terbakar), harassment (gangguan), denigration (pencemaran nama baik), cyberstalking (memata-matai), impersonation (peniruan), dan outing and trickery (penyebaran rahasia).

Dari perspektif budaya digital, Kepala Kantor Kemenag Kabupaten Lombok Tengah Nasrullah mengatakan, maraknya perundungan di dunia maya tak lepas dari menipisnya kesopansantunan dan perilaku kebebasan ekspresi yang kebablasan.

”Dengan nilai-nilai Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika sebagai landasan kecakapan digital, diharapkan mampu memberikan panduan karakter dalam beraktivitas di ruang digital,” jelas Nasrullah.

Sementara influencer Inta Oceania, yang bertindak selaku key opinion leader diskusi menyatakan, kreativitas dan kebebasan berekspresi di dunia maya mestinya diimbangi dengan kompetensi keamanan digital.

Kemampuan itu, menurut Inta, diharapkan mampu melindungi pengguna dari tindak kejahatan dunia maya, seperti: ancaman online, penguntitan (stalking), penindasan dunia maya (cyberbullying), ujaran kebencian, peretasan, hacking, penipuan online, dan pembuatan profil/akun palsu (fake account).

”Cara pencegahannya, yakni: seleksi dan batasi informasi, jangan klik link yang mencurigakan, tidak sembarang mengakses wifi, logout setelah sesi online, dan buat password yang kuat,” urai Inta Oceania.

Untuk diketahui, diskusi literasi digital pada lingkup komunitas merupakan salah satu rangkaian kegiatan dalam program Indonesia #MakinCakapDigital (IMCD). IMCD diinisiasi Kemenkominfo untuk memberikan literasi digital kepada 50 juta orang masyarakat Indonesia hingga 2024.

Tahun ini, program #literasidigitalkominfo dilaksanakan sejak 27 Januari 2023. Program Kemenkominfo yang berkolaborasi dengan Siberkreasi dan 18 mitra jejaring ini membidik segmen pendidikan dan segmen kelompok masyarakat sebagai peserta.

Program IMCD tahun ini menargetkan 5,5 juta warga masyarakat sebagai peserta, utamanya yang belum pernah mengikuti kegiatan literasi digital. IMCD sendiri bertujuan meningkatkan kemampuan masyarakat Indonesia dalam memanfaatkan teknologi digital secara positif, produktif, dan aman.

Informasi lebih lanjut mengenai kegiatan dan info literasi digital dapat diakses melalui media sosial Instagram @literasidigitalkominfo, Facebook Fan Page dan Kanal Youtube Literasi Digital Kominfo serta website info.literasidigital.id.

Ikuti Update jurnas.com di

Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1

KEYWORD :

Kemenkominfo IMCD Perundungan Internet

Terpopuler

Minggu, 14/06/2026 02:02 WIB
Olahraga

Statistik Head to Head Timnas Belanda vs Jepang

Sabtu, 13/06/2026 17:05 WIB
Olahraga

Prediksi Susunan Starting XI Timnas Brasil vs Maroko

Senin, 15/06/2026 01:01 WIB
Olahraga

Pelatih Turki Kecewa Timnya Kalah Lawan Australia

Minggu, 14/06/2026 12:10 WIB
Olahraga

Statistik Head to Head Timnas Jerman vs Timnas Curacao

https://journals.daffodilvarsity.edu.bd/?login=

toto macau

dota777 pulsa777 daftar pulsa777