Rabu, 16/06/2021 23:14 WIB

Jurus Jitu Zenius Genjot Kompetensi Siswa Zaman Now

Terdapat tiga aspek penting yang perlu disiapkan guna membentuk generasi sumber daya manusia Indonesia, yang mampu bersaing di era global.

Platform Zenius (Foto: Freepick/Muti-Jurnas.com)

Jakarta, Jurnas.com - Terdapat tiga aspek penting yang perlu disiapkan guna membentuk generasi sumber daya manusia Indonesia, yang mampu bersaing di era global.

Ketiga aspek tersebut dirangkum dalam sebuah motto `Cerdas, Cerah, dan Asyik`, sebagaimana disampaikan oleh Chief Education Officer Zenius, Sabda PS dalam kegiatan Media Gathering Zenius x Fortadikbud bertema `Cerdas, Cerah, Asyik: Pola Pikir untuk Masa Depan yang Kompetitif` yang digelar secara virtual pada Rabu (21/4) lalu.

Individu yang cerdas, lanjut Sabda, ialah siswa yang memiliki pemikiran kritis alih-alih sekadar menghafal. Pemikiran kritis tersebut didapat dengan cara mengusai kompetensi (skill) fundamental. Diharapkan, dengan menguasai kompetensi fundamental, maka kompetensi lainnya akan lebih mudah dipahami.

"Skill fundamental adalah skill yang jika kemampuan di bidang ini bagus, maka bisa dipakai di mana-mana. Contohnya, nalar matematis, scientific reasoning (penalaran saintifik), verbal dan logic. Ini ketiganya dites di PISA," terang Sabda.

"Kita fokus pada pendidikan materi yaitu belajar hal secara spesifik. Ini bukan tidak penting, tapi ada yang lebih penting yaitu skill fundamental untuk menanamkan scientific reasoning (penalaran saintifik). Dengan ini anak-anak jadi punya alat mengkritisi, bukan sekadar tahu ini itu," sambung dia.

Selanjutnya, Cerah. Setelah memiliki kompetensi dasar, aspek ini bertujuan merangsang peserta didik memilih dan memilah pengetahuan yang dibutuhkan untuk membuat mereka percaya diri menjalani kehidupan sehari-hari.

"Sekarang kita belajar ini dan itu makin lama makin banyak. Kita harus memilih, pengetahuan mana yang penting harus kita tahu, yang akhirnya bisa mengubah cara kita memandang dunia lebih akurat," ujar dia.

Terakhir, Asyik. Aspek ini mendorong peserta didik untuk tidak mengasah kemampuan kognitif, namun juga afektif. Sebab, kemampuan afektif berguna bagi setiap orang untuk hidup bersosial di tengah masyarakat.

"Untuk anak SMP/SMA, defisini Asyik ini kemampuan soal bukan cuma kognitif tapi kemampuan afektifnya. Mengerti orang lain, memahami cara pandang orang lain, sehingga bisa menyesuaikan," papar Sabda.

Selama lebih dari 16 tahun mewarnai dunia pendidikan Indonesia, Zenius telah mengajarkan ratusan ribu siswa untuk memiliki pola berpikir kritis. Pola berpikir kritis menjadi salah satu modal bagi siswa meraih pendidikan yang lebih tinggi dan berkarir.

Seperti yang diungkapkan oleh Indah Shafira, alumni Zenius yang saat ini sudah berkarir di Bank Dunia (World Bank), dan sedang menempuh studi di Harvard University.

Bergabung dengan Zenius pada 2013 silam, Indah menyebut platform belajar daring tersebut turut membentuk dirinya menjadi pribadi yang kritis dan selalu berpikir logis.

"Secara enggak langsung Zenius memberi inspirasi bahwa pendidikan itu bisa inovatif. Dulu bisa dikatakan jarang atau bahkan tidak ada e-learning, jadi (Zenius) bisa memberikan sense belajar itu bisa seru, tidak boring seperti ceramah," tutur Indah dalam kesempatan yang sama.

"Sedangkan di lingkungan kerja, sebelum kerja di World Bank sempat jadi guru di Jepang. Secara enggak langsung Zenius memberi inspirasi bahwa metode belajar tidak harus ceramah," imbuh Indah.

Sementara itu, Direktur Pembinaan SMA Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud), Purwadi Sutanto, mengapresiasi kiprah Zenius turut mencerdaskan kehidupan anak bangsa.

Menurut dia, peningkatan kompetensi siswa merupakan hal penting disiapkan terutama untuk menghadapi persaingan era global.

Peningkatan kompetensi, lanjut Purwadi, juga menjadi pekerjaan rumah yang harus dikebut penyelesaiannya ketika satuan pendidikan sudah diizinkan menggelar pembelajaran tatap muka (PTM) terbatas, di tengah pandemi Covid-19.

Pasalnya, akibat pembelajaran dilakukan dari rumah selama setahun terakhir yang dinilai tidak efektif, kini Indonesia menghadapi ancaman learning loss.

"Kalau diukur dengan PISA, kebetulan tahun depan Maret 2022 kita mengikuti tes PISA, kita agak khawatir untuk meningkatkan kompetensi anak kita terutama di tengah pandemi," ujar Purwadi.

Sebagai catatan, skor PISA Indonesia pada periode 2015-2020 menyebutkan bahwa Indonesia mendapatkan skor 371 untuk aspek kemampuan membaca. Sementara rerata negara-negara The Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) berada di angka 487. Adapun untuk aspek matematika dan sains, Indonesia mengumpulkan skor 379 dan 396 dari rerata OECD sebesar 489.

"Kita mengharapkan target di 2022 terjadi kenaikan. Kenapa kita optimistis, sebetulnya yang menjadi faktor utama adalah guru. Circle learning penting sekali, antara bahan ajar lalu men-delivery pembelajaran. Dari pembelajaran dilakukan evaluasi, evaluasi menjadi refleksi untuk menyempurnakan pembelajaran. Kalau kita jaga betul dan guru mengerti, Insya Allah anak kita memiliki kompetensi," kata Purwadi.

Guna mewujudkan komitmen untuk membentuk lebih banyak individu yang cerdas, cerah, dan asyik, Zenius telah membuka akses secara gratis ke lebih dari 90.000 video dan bank soal untuk seluruh siswa di Indonesia.

Zenius juga mengembangkan kecerdasan buatan bernama ZenBot.Fitur ini membantu siswa belajar dengan cara memberikan solusi dari soal-soal sulit dan memberikan rekomendasi materi pembelajaran untuk menguasai soal sulit tersebut. Fitur ini dapat diakses secara gratis lewat aplikasi Zenius atau WhatsApp.

Selain mengembangkan konten untuk siswa, Zenius juga telah meluncurkan sistem manajemen pembelajaran Zenius untuk Guru (ZenRu) yang juga dapat diakses secara gratis. Dengan ZenRu, para guru dapat mengakses bank soal Zenius yang terdiri dari soal LOTS dan HOTS yang menstimulasi siswa dalam belajar.

Zenius juga bekerja sama dengan dinas pendidikan di berbagai provinsi untuk memberikan pelatihan pada guru dalam memanfaatkan platform Zenius. Tujuannya, agar guru dapat mengelola pembelajaran dengan lebih efisien dan punya lebih banyak waktu untuk berinteraksi dengan siswa.

TAGS : Kompetensi Siswa Zenius Platform Edukasi Kemdikbud Cerdas Cerah Asyik




JURNAS VIDEO :

TERPOPULER :