Minggu, 28/02/2021 22:48 WIB

Heartology Cardiovascular Center Lakukan Operasi Hybrib Pertama di Indonesia

Heartology Cardiovascular Center melakukan operasi hybrid pertama di Indonesia pada seorang pasien, perempuan, usia 68, datang dengan keluhan nyeri dada, sesak napas dan memiliki riwayat stroke

Tim dokter Heartology Cardiovascular Center dalam acara media gathering yang dilakukan secara virtual dengan tema "Operasi Hybrid Pertama di Indonesia" pada Rabu (10/02).

Jakarta, Jurnas.com - Heartology Cardiovascular Center melakukan operasi hybrid pertama di Indonesia pada seorang pasien, perempuan, usia 68 tahun yang datang dengan keluhan nyeri dada, sesak napas dan memiliki riwayat stroke.

Hal itu disampaikan pihak dokter Heartology Cardiovascular Center dalam acara media gathering yang dilakukan secara virtual denga tema "Operasi Hybrib Pertama di Indonesia" pada Rabu (10/02).

Dalam acara tersebut pihak Heartology menyebutkan bahwa operasi dilakukan lantaran hasil CT-scan menunjukkan kombinasi diseksi aorta dengan robekan dari pangkal aorta jantung hingga ke aorta di perut.

Robekan yang ada menimbulkan gejala nyeri dada mirip dengan serangan jantung. Robekan juga melibatkan cabang aorta yang menuju pembuluh darah ke otak sehingga gejala yang muncul menyerupai stroke.

Berikut langkah-langkah yang dilakukan tim dokter saat melakukan operasi hybrid pertama kali di Indonesia:

Pembiusan

Anas Alatas selaku Dokter Anesthesi Kardiovaskular melaukan bius umum (general anesthesi) yang merupakan strategi pembiusan yang wajib dilakukan pada prosedur ini.

Dalam tahap itu, ia melakukan induksi/pembiusan harus dengan akurasi yang sangat tinggi, antara lain karena kesalahan dosis sedikit saja, dapat meyebabkan komplikasi yang bermakna untuk pasien ini.

Komplikasi berupa kematian atau perdarahan atau ketidakstabilan hemodinamik yang pada akhirnya akan mempersulit proses operasi.

Ada beberapa alat canggih yang terlibat pada operasi ini dan beberapa strategi khusus, yang sebagian tidak dilakukan pada operasi jantung lain, yaitu:

Ruang operasi hybrid, yang memungkinkan dilakukannya tindakan diagnostik, intervensi dan pembedahan pada saat yang sama.

Ruang operasi ini dilengkapi dengan mesin GE Discovery IGS 7, yang dilengkapi dengan robotic gantry yang memudahkan transisi antara imaging dan bedah, bebas suspensi di langit-langit sehingga mengurangi sumber kontaminasi.

Heart lung machine, berfungsi sebagai pengganti jantung dan paru saat jantung dan paru pasien dihentikan.

Strategi hipotermic arrest, dimana suhu tubuh diturunkan hingga 23˚C

Strategi circulatory arrest, dimana seluruh aliran darah dihentikan.

Strategi selective perfusion, dimana diberikan aliran darah tambahan untuk mencegah kerusakan organ saat aliran darah dihentikan.

Teknologi dan strategi di atas, memerlukan beberapa monitoring saat operasi yang juga sangat jarang dilakukan pada operasi jantung lain, antara lain seperti dual artery line dan temperature monitoring, nirs (saturasi otak) dan monitoring kompleks lainnya.

TEE (Transesophageal Echocardiography)

dr BRM Ario Kuncoro, SpJP(K) (Dokter Jantung) melakukan Intraoperative TEE untuk menilai struktur jantung termasuk katup, fungsi jantung, memantau kondisi katup selama dan sesudah operasi, memantau fungsi jantung selama operasi dan menilai penumpukan cairan di selaput jantung maupun selaput paru.

TEE akan menilai keterlibatan katup atau kelainan lain, yang tidak secara langsung berkaitan dengan diseksi aorta yg bisa mengubah strategi prosedur tindakan.

Pembedahan

Dipimpin oleh dr Dicky Aligheri SpBTKV, pembedahan dilakukan dengan tim sejumlah 10 staf ahli. Dilakukan sayatan membuka rongga dada, dan menghubungkan heart lung machine dengan tubuh pasien sehingga, jantung dan paru dapat diistirahatkan selama operasi yang berjalan sekitar 5-6 jam.

Suhu tubuh diturunkan bertahap hingga 23˚C. Aorta dievaluasi dan ditemukan tambahan robekan di dinding bagian dalam aorta yang memanjang, dari aorta ascenden yang paling dekat dengan jantung, arcus aorta dengan cabang pembuluh darah ke kepala, dan terus memanjang hingga ke aorta descenden.

Dilakukan penggantian bagian aorta ascenden dan arcus aorta dengan menggunakan prostetic graft (graft buatan) ukuran 22 mm.
Saat mengganti arcus aorta, aliran darah ke seluruh tubuh dihentikan, termasuk aliran darah ke jantung dan otak, ginjal, tungkai dan organ lainnya.

Untuk mencegah kerusakan organ-organ tersebut, dilakukan beberapa teknik, seperti intermittent cardioplegia untuk jantung, selective cerebral perfusion untuk otak, dan
manuver rumit lainnya.

Di bagian aorta descenden yang hanya sebagian tercapai dari lapangan operasi, dilakukan pemasangan elephant trunk graft, yang bertujuan untuk mempermudah prosedur stenting selanjutnya (landing zone).

Setelah prosedur hampir selesai, aliran darah dialirkan kembali dan suhu tubuh dinaikkan sampai normal. Beberapa kelainan yang merupakan efek samping/komplikasi dari teknik operasi ini seperti aritmia (gangguan irama jantung), koagulopati (gangguan pembekuan darah), renal insufficiency (gangguan fungsi ginjal) diatasi dengan sistematis, sehingga tidak berkepanjangan setelah operasi.

Akhirnya, setelah pasien relatif stabil, rongga dada ditutup dengan meninggalkan tiga buah drain untuk mengeluarkan sisa darah.

TEVAR (Thoracic Endovascular Aortic Repair)

dr Suko Adiarto, SpJP dan tim melakukan pemasangan stent graft pada descending aorta untuk menutup robekan, yang pada kasus ini meluas hingga descending aorta.

Stent graft dimasukkan melalui pembuluh darah paha menuju descending aorta dan kemudian ditempelkan pada elephant trunk yang telah dipasang saat pembedahan.

Tujuan TEVAR adalah untuk menutup robekan di daerah descending aorta yang belum tercover oleh pembedahan

Paska Pembedahan

Seluruh pasien yang mengalami pembedahan jantung, harus dirawat di perawatan intensif sekitar 4-5 hari tergantung beratnya kasus dan rumitnya prosedur yang dilakukan.

Dr Dafsah Juzar,SpJP(K) dan tim, melalukan pemantauan hemodinamik, perdarahan, fungsi nafas, kesadaran, fungsi ginjal dan fungsi tubuh lainnya, secara seksama dari menit ke menit untuk meyakinkan bahwa pasien terawasi dengan baik.

Berbeda dengan operasi jantung lain, operasi jenis ini mempunyai derajat pengawasan intensif yang lebih kompleks, antara lain adanya perubahan klinis yang sering kali tidak berhubungan dengan fungsi organ yang terlibat. Melainkan disebabkan oleh manuver/strategi operasi yang dikerjakan sebelumnya.

Heartology Cardiovascular Center mampu melakukan Operasi Hybrid yang Pertama di Indonesia, karena tersedianya tehnologi canggih dan tim dokter berpengalaman yang mempunyai rekam jejak yang telah terbukti.

TAGS : Operasi Hybrid Heartology Cardiovascular Center Penyakit Jantung




JURNAS VIDEO :

TERPOPULER :