Senin, 26/07/2021 01:30 WIB

Ancam Presiden Erdogan, Haftar: Pergi atau Hadapi Peluru Kami

Erdogan mengirim tentara bayaran yang didukung Turki dari Suriah untuk memperjuangkan GNA, bersama dengan artileri dan senjata berat yang telah mengubah gelombang menguntungkannya.

Jenderal Khalifa Haftar menuduh presiden Turki datang ke Libya untuk mencari warisan leluhurnya. (AFP / File)

Riyadh, Jurnas.com - Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan diperingatkan pada Minggu (3/8) untuk menarik pasukannya keluar dari Libya atau menghadapi tanggapan bersenjata.

Peringatan itu datang dari orang kuat militer timur Libya, Jenderal Khalifa Haftar, yang memimpin Tentara Nasional Libya (LNA) dalam konflik dengan Pemerintah Kesepakatan Nasional (GNA) di Tripoli, dipimpin oleh Fayez Al-Sarraj.

Erdogan mengirim tentara bayaran yang didukung Turki dari Suriah untuk memperjuangkan GNA, bersama dengan artileri dan senjata berat yang telah mengubah gelombang menguntungkannya.

Dalam pidatonya kepada pasukannya untuk merayakan Iduladha, Haftar menuduh presiden Turki datang ke Libya untuk mencari warisan leluhurnya.

"Kami memberi tahu dia (Erdogan) bahwa kami akan menerjemahkan warisan leluhur Anda dengan peluru. Untuk pasukan Turki di Libya, tidak akan ada belas kasihan karena mereka tidak pantas mendapatkan belas kasihan," ujarnya.

"Rakyat Libya tidak akan pernah menerima diduduki oleh orang Turki, dan tidak akan pernah lagi dijajah," tegas Haftar.

 

Peringatan Haftar kepada Erdogan terjadi setelah pertengkaran verbal antara Menteri Pertahanan Turki, Hulusi Akar, dan Menteri Negara Urusan Luar Negeri Uni Emirat Arab, Anwar Gargash, yang mendukung Haftar.

"Abu Dhabi melakukan apa yang dilakukannya di Libya, melakukan apa yang dilakukannya di Suriah. Semua itu sedang direkam. Di tempat dan waktu yang tepat, rekening akan diselesaikan,"kata Akar.

"Kita perlu bertanya kepada Abu Dhabi, dari mana permusuhan ini, dari mana niat ini, dari mana kecemburuan ini berasal?" tambahnya.

Sementara itu, Gargash menanggapi dengan peringatan kepada Turki untuk berhenti mencampuri urusan Arab. "Ilusi kolonialis milik arsip sejarah," kata Gargash. "Hubungan antara negara tidak dilakukan dengan ancaman." (Arab News)

TAGS : Jenderal Khalifa Haftar Turki Recep Tayyip Erdogan




JURNAS VIDEO :

TERPOPULER :