Minggu, 01/08/2021 18:32 WIB

Kemdikbud Biayai Pengangguran Usia Sekolah, Rata-rata Rp4-6 Juta per Orang

PKW akan dianggarkan Rp6.000.000 juta per orang. Jumlah ini akan dibagi Rp3 juta untuk pelatihan, dan Rp3 juta untuk dijadikan modal pasca menyelesaikan pelatihan.

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Foto: Muti/Jurnas)

Jakarta, Jurnas.com - Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) membuka peluang pelatihan bagi masyarakat usia sekolah 15-30 tahun, yang saat ini berstatus putus sekolah atau menganggur karena tidak melanjutkan pendidikan.

Demikian disampaikan oleh Plt. Direktur Kursus dan Pelatihan, Ditjen Pendidikan Vokasi Kemdikbud, Wartanto dalam konferensi video pada Senin (15/6) kemarin.

Wartanto menjelaskan, program ini merupakan langkah lanjutan dari kebijakan menikahkan satuan pendidikan dengan dunia industri yang digaungkan akhir-ahir ini.

Dia mengatakan, lembaga kursus dan pelatihan (LKP) pun akan ikut dinikahkan dengan industri, UMKM, perbankan, dan platform pemasaran melalui dua jenis program yakni Program Kecakapan Kerja (PKK) dan Program Kecakapan Wirausaha (PKW).

"PKK yakni mendidik anak usia sekolah khususnya 15-30 tahun. Mereka ini pemuda usia produktif, tapi mereka yang posisinya bukan sebagai siswa, atau mereka yang drop out, tidak lulus, tidak melanjutkan lalu menganggur," jelas Wartanto kepada awak media.

PKK yang diselenggarakan oleh lembaga kursus dan pelatihan, lanjut Wartanto, terlebih dahulu harus memiliki perjanjian kerja sama (MoU) dengan industri.

Dengan kerja sama tersebut diharapkan kurikulum dan metode pembelajaran dapat menyesuaikan dengan kebutuhan industri. Sehingga nantinya dapat langsung terserap ke dunia kerja.

"Dan pembelajaran, pendidik, atau instrukturnya dari industri. Sarana dan pra sarana kalau bisa pakai sarana dan pra sarana industri biar tidak kaget nanti," ujar dia.

"Selanjutnya, silakan uji kompetensi industri diberi sertifikat industri, sehingga ujung-ujungnya diserap oleh industri tidak boleh ada yang menganggur," sambung Wartanto.

Adapun untuk PKW, selain kerja sama dengan industri juga diharuskan menggandeng perbankan dan vendor pemasaran. Dengan demikian, setelah program ini dilaksanakan, para peserta diharapkan dapat mengakses semua unit kerja sama itu untuk membuka usaha.

"Kalau dia sudah punya modal dan produksi, kunci terakhir adalah bagaimana memasarkan produk dan jasa. Kita mengajak, selain startup, kita undang juga vendor yang berbasis online untuk ikut memasarkan," terang Wartanto.

Lalu berapa jumlah yang didapatkan oleh setiap peserta? Wartanto menjelaskan, untuk PKK masing-masing peserta dibiayai rata-rata sebesar Rp4.250.000. Jumlah tersebut tidak rigid, karena menyesuaikan dengan jenis pelatihan yang diambil.

"Silakan teman-teman mengajukan, nanti akan disesuaikan dengan tabel yang ada. Misalnya pelatihan menjahit level 1 tidak sampai Rp1 juta. Tapi kalau (pelatihan) mesin, apalagi operator alat berat itu bisa lebih Rp5 juta. Jadi itu Rp4,25 juta rata-rata itu bisa naik bisa turun. Tidak boleh sama," ujar dia.

Sementara untuk PKW akan dianggarkan Rp6.000.000 juta per orang. Jumlah ini akan dibagi Rp3 juta untuk pelatihan, dan Rp3 juta untuk dijadikan modal pasca menyelesaikan pelatihan.

Wartanto mengakui, Rp3 juta tidak cukup untuk dijadikan modal usaha. Karenanya, kerja sama perbankan menjadi penting bagi peserta untuk mengajukan dana simulan modal usaha kecil.

"Total anggaran yang disediakan untuk PKK sebesar Rp200 miliaran dengan target 50 ribu orang. Sedangkan untuk PKW Rp106 miliar dengan target 16.676 orang," ungkap dia.

Sementara itu, Dirjen Pendidikan Vokasi Wikan Sakarinto mengatakan, LKP harus menikah dengan dunia industri dan dunia kerja.

Link and Match tersebut akan lebih memastikan kesesuaian dan daya serap lulusan di dunia kerja, sehingga lulusan akan segera memiliki kemandirian untuk mencapai kehidupan yang lebih mapan.

Lebih lanjut Wikan menjelaskan, sekitar 16 ribu peserta PKW akan dilatih dan didekatkan dengan berbagai skema dukungan, agar mereka mampu mengembangkan bisnis yang diharapkan akan terus berkembang, mendapatkan modal rintisan usaha dan mampu menyerap tenaga kerja di bidang non-formal.

"Totalnya di 2020 ini diharapkan akan segera tercipta 66 ribu SDM trampil dan berdaya mandiri, dihasilkan dari PKK dan PKW ini," tandas Wikan.

TAGS : Program Pelatihan Kemdikbud Pengangguran Usia Sekolah




JURNAS VIDEO :

TERPOPULER :