Senin, 04/03/2024 05:22 WIB

Penjelasan Kementan soal Impor Jagung 100 Ribu Ton

Impor ini bukanlah terkait masalah produksi, namun lebih karena persoalan tatadistribusi jagung yang tidak merata.

Sekretaris Jenderal Kementan melakukan konferensi pers tentang Impor Jagung di Jakarta, Sabtu (3/11)

Jakarta - Pemerintah mengeluarkan  rekomendasi impor jagung melalui Perum Bulog sebanyak sebanyak 100.000 ton. Impor Ini dilakukan untuk memenuhi kebutuhan pakan bagi peternak ayam skala kecil, khususnya ayam petelur.

Dirjen Tanaman Pangan Kementerian Pertanian (Kementan), Sumardjo Gatot Irianto menegaskan, impor kali ini bukan karena pasokan dalam negeri sekarat, melainkan tatadistribusi yang belum merata.

"Ada daerah yang sangat melimpah dan ada daerah yang kekurangan pasokan. Terkait masalah distribusi yang tak merata inilah kebijakan impor terpaksa diambil," kata Gatot usai konferensi pers terkait impor jagung di Jakarta, Sabtu (3/11).

Selain itu, kata Gatot, mahalnya biaya distribusi jadi pertimbangan pemerintah melakukan impor. Biaya transportasi dari Tanjuk Priok ke Tanjung Pandan, jauh lebih mahal dibandikan biaya penjualan ekspor dari Tanjung Priok ke Malaysia.

"Perjalanan untuk mobil angkut itu setiap 14 ton  itu nilainya Rp33 juta. Belum termasuk biaya solar mobil dan lainnya. Sementara Tanjung Priok ke Malaysia untuk 24 hingga 25 ton biayanya USD1750. Biaya itu sudah termasuk pengurusan dokumen," terang Gatot.

"Kenapa Jagung dari Gorontalo tidak dikirim ke Jawa, tapi ke Filipina? Karena biasaya transportasinya itu yang mahal. Jadi sekali lagi saya tegaskan bahwa kita impor bukan karena kekurang pasokan. Kita sudah surplus," tegas Gatot.

Hal itu diperkuat oleh data Badan Pusat Statistik (BPS) yang menyimpulkan, produksi dan pasokan jagung 2018 sudah surplus sebesar 12 juta ton PK (Pipilan Kering, Red).

"Selama 3 tahun ini Indonesia sudah menyetop impor jagung yang biasanya 3,5 juta ton pertahun, setara menyelamatkan Devisa Rp10 triliun, bahkan ditahun 2018 saja, hingga Oktober, Indonesia sudah mengekspor 370 ribu ton jagung ke negara tetangga," ungkap Gatot.

Sementara itu, tim Pemantauan Kementerian Pertanian di lapangan mengatakan, posisi panen besar sudah mulai terjadi di berbagai daerah antara lain Jawa Tengah, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, Barat dan Gorontalo.

Bahkan, survei bersama tim satgas pangan dengan tim Kementerian Pertanian dan Kementerian Perdagangan pada awal September menunjukkan panen sudah mulai terjadi besar-besaran di Kabupaten Bantaeng dan Jeneponto. 

Total produksi September di Sulsel mencapai 87.000 ton.  Sedangkan di  Jawa Timur  Oktober-November  panen jagung  mencapai berturut turut 79.000 hektare dan 111.000 hektare.  Total produksi Jawa Timur di dua bulan ke depan diperkirakan akan mencapai 320 ribu ton dan 699.000 ton.

"Sebenarnya panen dan produksi jagung berlangsung sepanjang tahun. Siklus tahunan produksi jagung menunjukkan bahwa puncak panen utama terjadi pada bulan Februari-April, puncak panen ke dua pada Juli-Agustus dan puncak panen ke tiga pada Oktober-Desember awal," ujar Gatot.

KEYWORD :

Ekspor Impor Ekspor Jagung Surplus Jagung




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :