Minggu, 13/06/2021 17:54 WIB

Jelang Kunjungan AS, Myanmar Ganti Jenderal Otoritas Rakhine

Militer Myanmar mengganti jenderal penanggung jawab negara bagian Rakhine menyusul laporan pemerkosaan dan pembunuhan secara terorganisir.

Etnis Rohingya (Foto: Fred Dufour/AFP)

Yangon - Militer Myanmar mengganti jenderal penanggung jawab negara bagian Rakhine menyusul laporan pemerkosaan dan pembunuhan secara terorganisir yang dilakukan oleh pasukan keamanannya.

Tidak ada alasan yang disampaikan Mayjen Maung Maung Soe mengenai pemindahan jabatannya sebagai kepala Komando Barat di negara bagian Rakhine, di mana militer Myanmar, yang dikenal sebagai Tatmadaw, meluncurkan operasi kontra-pemberontakan sweeping pada bulan Agustus.

Namun, ini terjadi menjelang kunjungan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Rex Tillerson pada Rabu (15/11). Dalam kunjungan tersebut, ia mungkin akan menyampaikan pesan tegas kepada jenderal-jenderal Myanmar, dan juga Aung San Suu Kyi yang dinilai gagal.

"Mayor Jenderal Aye Lwin, wakil direktur bidang perang psikologis dan hubungan masyarakat di Kementerian Pertahanan, mengatakan kepada Reuters," Ia tidak dipindahkan ke posisi apapun saat ini. Ia hanya menjadi cadangan."

Pejabat senior Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang mengunjungi kamp-kamp pengungsi di Bangladesh, pada Minggu (12/11) menuduh militer Myanmar melakukan pemerkosaan massal terorganisir dan kejahatan lainnya terhadap kemanusiaan.

Militer Myanmar mengatakan penyelidikan internalnya sendiri telah membebaskan pasukan keamanan dari semua tuduhan kekejaman. Temuan para peneliti tersebut dimuat di halaman Facebook kepala komandan militer, Jenderal Senior Min Aung Hlaing.

Pengiriman Maung Soe diperintahkan pada Jumat dan Brigadir Jenderal Soe Tint Naing, mantan direktur logistik, ditunjuk sebagai kepala baru Komando Barat. Terdiri dari tiga divisi, Komando Barat diawasi oleh Biro Operasi Khusus, yang melapor ke kantor Min Aung Hlaing.

Pejabat senior PBB Komisaris Tinggi Hak Asasi Manusia Zeid Ra`ad al-Hussein, telah menggambarkan tindakan tentara di Rakhine sebagai contoh buku teks tentang pembersihan etnis.

Myanmar mengatakan operasi pembersihan diperlukan untuk keamanan nasional setelah militan Rohingya menyerang 30 pos keamanan dan sebuah pangkalan militer di negara bagian tersebut pada 25 Agustus. Penyelidikan internal menempatkan jumlah pejuang yang terlibat dalam serangan di lebih dari 10.000, lebih dari dua kali lipat pada yang sebelumnya.

TAGS : Myanmar Bangladesh Rohignya PBB Amerika Serikat




JURNAS VIDEO :

TERPOPULER :