Minggu, 19/04/2026 18:02 WIB

Satlak Prima Dibubarkan, Ini Pendapat Taufik Hidayat





Menyangkut pengalihan tanggung jawab untuk meningkatkan performa atlet elite kepada induk organisasi, menurut Taufik, tidak semua PB-PB memiliki kemampuan dan berkecukupan dana untuk menjalankan pelatnas secara mandiri.

Taufik Hidayat

Jakarta - Satuan Pelaksana Program Indonesia Emas (Satlak Prima) segera dibubarkan oleh pemerintah. Presiden Joko Widodo mengeluarkan kebijakan membubarkan Satlak Prima demi memotong alur birokrasi anggaran Asian Games 2018. Kebijakan ini dengan tujuan agar jarak antara pengambil keputusan dan pelaksanaan Asian Games 2018 lebih pendek.  Satlak Prima pun segera dibubarkan.

Mantan pebulutangkis terbaik Indonesia, Taufik Hidayat yang juga Wakil Ketua Satlak Prima, mempertanyakan apakah pembubaran Satlak Prima itu akan menyelesaikan masalah.  Apalagi, penyelenggaraan Asian Games 2018 tinggal 10 atau 11 bulan lagi. Waktunya demikian mepet.

Dari berita yang dia baca, proses birokrasi penyaluran dana pemusatan latihan nasional selama ini dinilai terlalu panjang dan menjadi biang kerok permasalahannya. Dengan pembubaran Satlak Prima, diharapkan pengambilan keputusan makin cepat. Tidak ada lagi masalah yang menyangkut, seperti keterlambatan soal uang saku, pembelian peralatan baru, dan kebutuhan pelatnas lainnya.

Namun, Taufik menepis argumentasi itu dan melihat ada para pembisik bagi pembuat keputusan di atas tidak akurat. Sejatinya, kata dia,  Satlak Prima itu adalah lembaga pembuat program latihan agar performa para atlet elite dan andalan bisa lebih optimal. Satlak Prima fungsinya hanya membantu dan mendukung induk-induk organisasi dengan berbagai program untuk meningkatkan performa para atlet bisa tampil optimal.

“Untuk diketahui pula, Satlak Prima tidak pernah mengurusi soal masalah keuangan dan distribusi penyaluran dana bagi pelatnas. Segala urusan uang dan penyaluran dana bagi kebutuhan pelatnas, semua birokrasi dan KPA-nya ada di Kemenpora. Jadi menurut saya, pembubaran Satlak Prima ini blunder dan salah arah!,” tandas Taufik yang kini menjabat Staf Khusus Bidang Olahraga Kemenpora.

Yang lebih aneh lagi, lanjutnya, setelah Satlak Prima dibubarkan, kabarnya KONI akan diberi peran lebih besar. “Ini juga menggelikan. Birokrasi panjang yang katanya ingin dipangkas, namun kembali melibatkan lembaga lain. Ini artinya cuma ganti nama saja. Saya rasa birokrasinya tetap panjang dan berbelit,” tandasnya..

Menyangkut pengalihan tanggung jawab untuk meningkatkan performa atlet elite kepada induk organisasi, menurut Taufik, tidak semua PB-PB memiliki kemampuan dan berkecukupan dana untuk menjalankan pelatnas secara mandiri. Dari sekian banyak induk organisasi olahraga di Tanah Air, hanya segelintir yang memiliki kemampuan dalam melakukan pembinaan prestasi.

“Yang menyedihkan lagi, induk organisasi yang getol dan  menyambut gembira pembubaran Satlak Prima ini adalah induk organisasi yang sebenarnya belum menunjukkan prestasi besar. Induk organisasi tersebut hanya ikut memanas-manasi suasana dan bak memancing di air keruh!,” tutur mantu dari Agum Gumelar ini.

Sebaiknya, pendapat Taufik, para pemangku kepentingan duduk bersama untuk mencari terobosan terbaik. Sekaligus mencari solusi agar penampilan atlet-atlet Indonesia bisa tampil optimal dalam Asian Games 2018.

Menurut dia, dengan waktu yang demikian mepet, sebaiknya jika ada masalah soal lambannya birokrasi dalam penyaluran pendanaan pelatnas, perlu ada skala prioritas. Cabang-cabang olahraga yang memiliki kans besar untuk merebut medali dalam Asian Games 2018, diberi privilege. Sehingga proses pelatnas bisa terus berjalan tanpa terganggu oleh soal keterlambatan dana yang dipicu oleh berbelitnya birokrasi dan proses pencairan dana bagi pelatnas. “Yang tidak kalah penting. Jangan bawa persoalan pembinaan olahraga ke dalam ranah politik!,” tegasnya.

KEYWORD :

Satlak Prima Pelatnas taufik hidayat




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :