Ilustrasi - Peristiwa kelahiran Nabi Muhammad SAW.
Jakarta, Jurnas.com - Jauh sebelum fajar menyingsing di Ufuk Kota Makkah pada 12 Rabiul Awwal Tahun Gajah, dunia berada dalam selimut kegelapan moral dan spiritual.
Peradaban besar manusia saat itu terkoyak oleh kezaliman, penyembahan berhala, serta pengikisan nilai-nilai kemanusiaan.
Di tengah gumpalan kegelapan zaman jahiliyah itulah, sebuah peristiwa paling agung dalam sejarah peradaban manusia dimulai dari sebuah kamar sederhana milik Aminah binti Wahab.
Kisah kelahiran Nabi Muhammad SAW diwarnai oleh serangkaian keajaiban alam dan peristiwa spiritual yang telah diisyaratkan oleh para anbiya terdahulu.
Momen berharga tersebut terjadi hanya beberapa pekan setelah Makkah dijaga secara menakjubkan oleh Allah SWT dari serbuan pasukan bergajah pimpinan Abrahah.
Saat detik-detik persalinan tiba, Aminah tidak merasakan kesakitan sebagaimana umumnya wanita melahirkan. Dari rahimnya, lahir seorang bayi suci yang kelak memikul risalah kenabian penutup bagi seluruh umat manusia.
Begitu jabang bayi tersebut terlahir ke dunia, pancaran cahaya indah meliputi sekelilingnya, menembus hingga ke istana-istana di negeri Syam. Sang bayi terlahir dalam keadaan sudah terkhitan, berhiaskan wewangian alami, serta langsung bersujud mengagungkan Sang Pencipta.
Pada malam yang sama, tanda-tanda kebesaran Ilahi bergetar di berbagai penjuru bumi, Istana Kisra di Persia berguncang hingga empat belas tiang penyangganya roboh, api sesembahan kaum Majusi yang tak pernah padam selama seribu tahun mendadak padam seketika, dan air di Danau Sawa surut secara mendadak.
Kabar gembira mengenai kelahiran sang bayi segera disampaikan kepada sang kakek, Abdul Muthalib, yang saat itu sedang bertawaf di sekeliling Ka`bah.
Dengan rasa haru dan sukacita yang mendalam, tokoh terpandang suku Quraisy tersebut bergegas menggendong cucunya yang telah kehilangan sang ayah, Abdullah bin Abdul Muthalib, sejak masih berada di dalam kandungan.
Abdul Muthalib membawa bayi mungil itu ke dalam Ka`bah untuk memanjatkan doa syukur, lalu memberinya nama Muhammad, sebuah nama yang asing bagi masyarakat Arab kala itu, yang bermakna "sosok yang terpuji di bumi dan di langit."
Sesuai dengan tradisi luhur bangsa Arab pada masa itu, bayi Muhammad kemudian diserahkan kepada Halimah as-Sa`diyyah dari dusun Bani Sa`ad untuk disusui dan dibesarkan di lingkungan padang pasir yang murni.
Kehadiran bayi Muhammad membawa keberkahan yang nyata bagi kehidupan Halimah; ternak-ternaknya yang semula kurus menjadi gemuk dan menghasilkan susu berlimpah, serta kediamannya senantiasa dinaungi kedamaian dan ketentraman batin.
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
Nabi Muhammad Maulid Nabi Kisah Kelahiran Nabi


















