Rabu, 29/07/2026 17:18 WIB

Ini Bedanya Surah Makkiyah dan Madaniyah dalam Al-Qur`an





Para ulama studi Al-Qur`an mengelompokkan wahyu yang diterima Nabi Muhammad SAW ke dalam dua kategori besar, yaitu Surah Makkiyah dan Surah Madaniyah

Ilustrasi Al-Qur`an (Foto: HO/IST VIA KONSULTASI SYARIAH)

Jakarta, Jurnas.com - Dalam susunan 114 surah di dalam Al-Qur`an, para ulama studi Al-Qur`an (Ulumul Qur`an) mengelompokkan wahyu yang diterima Nabi Muhammad SAW ke dalam dua kategori besar, yaitu Surah Makkiyah dan Surah Madaniyah.

Pengelompokan ini tidak sekadar berkaitan dengan tempat di mana ayat tersebut turun, melainkan juga mencerminkan periode perjalanan dakwah Rasulullah SAW, penekanan topik ajaran, hingga gaya bahasa yang digunakan.

Untuk menentukan apakah suatu surah tergolong Makkiyah atau Madaniyah, para ulama menggunakan beberapa sudut pandang patokan.

Pendapat yang paling kuat dan populer di kalangan mayoritas ulama (jumhur ulama) berpatokan pada waktu hijrah Nabi Muhammad SAW:

Surah Makkiyah

Seluruh ayat atau surah Al-Qur`an yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW sebelum beliau melakukan hijrah dari Kota Mekkah ke Kota Madinah.

Meskipun ayat tersebut turun di luar Kota Mekkah (seperti di Mina, Arafah, atau Ta`if), selama turun sebelum peristiwa hijrah, statusnya tetap tergolong Makkiyah.

Surah Madaniyah

Seluruh ayat atau surah Al-Qur`an yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW setelah beliau melakukan peristiwa hijrah ke Madinah. Kategori ini mencakup seluruh wahyu yang turun sesudah masa hijrah, termasuk ayat yang turun saat peristiwa Pembebasan Kota Mekkah (Fathu Makkah) atau Haji Wada`.

Ciri-Ciri Utama Surah Makkiyah

Secara garis besar, masa awal dakwah di Mekkah berfokus pada penanaman pondasi keimanan di tengah masyarakat pagan Quraisy. Oleh karena itu, Surah Makkiyah memiliki karakteristik khas sebagai berikut:

- Tema Pembahasan: Berfokus pada penanaman akidah tauhid, pembuktian keesaan Allah, penjelasan hari kebangkitan dan kiamat, gambaran surga dan neraka, serta kisah-kisah para nabi terdahulu sebagai pelajaran moral.

- Gaya Bahasa dan Ayat: Ayat-ayatnya cenderung singkat, padat, berirama tegas, dan menggunakan bahasa yang sangat puitis serta menyentuh emosi (balaghah).

- Seruan Khas: Banyak menggunakan kata sapaan umum seperti "Wahai manusia" (يَا أَيُّهَا النَّاسُ) atau "Wahai anak Cucu Adam" (يَا بَنِي آدَمَ), karena dakwah saat itu ditujukan kepada seluruh masyarakat umum yang belum beriman.

- Ciri Teknis dalam Al-Qur`an: Mengandungi lafaz "Kalla" (كَلَّا), memuat ayat-ayat sajdah, dan mayoritas diawali dengan huruf-huruf terpotong (Fawatih ash-Suwar) seperti Alif Lam Mim atau Yasin (kecuali Surat Al-Baqarah dan Ali `Imran).

Ciri-Ciri Utama Surah Madaniyah

Setelah hijrah ke Madinah, tatanan masyarakat Islam mulai terbentuk secara berdaulat. Oleh sebab itu, fokus wahyu bergeser ke arah aturan hukum dan tatanan sosial, dengan ciri-ciri sebagai berikut:

- Tema Pembahasan: Berfokus pada rincian hukum syariat (fiqih), seperti tata cara ibadah ritual, hukum waris, pernikahan, muamalah ekonomi, tata kelola pemerintahan, hukum pidana, hingga aturan perang dan perdamaian.

- Gaya Bahasa dan Ayat: Ayat-ayatnya cenderung panjang, bernada lugas, rasional, dan memuat penjelasan hukum yang terperinci.

- Seruan Khas: Sering menggunakan kata sapaan khusus kepada orang beriman, yaitu "Wahai orang-orang yang beriman" (يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا), karena masyarakat di Madinah sudah menjadi komunitas muslim.

- Ciri Teknis dalam Al-Qur`an: Membahas tentang perilaku dan dialog menghadapi kaum munafik, aturan interaksi dengan Ahli Kitab (Yahudi dan Nasrani), serta ketentuan pembagian harta rampasan perang (ghanimah).

KEYWORD :

Surat Makkiyah Surat Madaniyah Ulumul Quran Al Quran




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :