Ilustrasi - Ali bin Abi Thalib dalam perang khaibar (Foto: Jernih.co)
Jakarta, Jurnas.com - Ali bin Abi Thalib bukan sekadar pemimpin politik dalam sejarah Islam, melainkan simbol keberanian, kecerdasan, dan keadilan yang tak tergoyahkan.
Sebagai sepupu sekaligus menantu Nabi Muhammad SAW, Ali memegang peran sentral sejak fajar Islam menyingsing hingga akhir hayatnya yang tragis di tangan pemberontak.
Lahir di Makkah sekitar tahun 600 M, Ali bin Abi Thalib memiliki keistimewaan yang tidak dimiliki orang lain, ia diyakini sebagai satu-satunya manusia yang lahir di dalam Ka`bah.
Sejak usia dini, Ali diasuh langsung oleh Rasulullah dan menjadi salah satu orang pertama yang menerima risalah Islam.
Selama masa kenabian, Ali dikenal sebagai ksatria tangguh di medan perang. Ia menjadi pembawa panji dalam Pertempuran Badar dan Khaibar, serta dikenal karena kemurahan hatinya bahkan terhadap musuh yang telah dikalahkan.
Selain ketangkasan fisik, ia dijuluki sebagai "Pintu Gerbang Ilmu" karena kedalaman pemahamannya terhadap Al-Qur`an dan hukum Islam.
Kedekatannya dengan Rasulullah semakin erat melalui pernikahannya dengan Fatimah az-Zahra, yang kemudian menurunkan keturunan mulia, Hasan dan Husain.
Ali dilantik sebagai Khalifah keempat pada Juni 656 M, di tengah situasi politik yang penuh gejolak pasca-pembunuhan Khalifah Utsman bin Affan.
Masa pemerintahannya ditandai dengan kebijakan fiskal yang sangat egaliter. Berbeda dengan pendahulunya, Ali bersikeras mendistribusikan pendapatan negara secara merata kepada seluruh umat Muslim tanpa memandang status sosial atau senioritas dalam Islam.
Namun, sikap kaku Ali dalam menegakkan keadilan dan perampingan birokrasi ini memicu pertentangan dari berbagai pihak yang merasa dirugikan secara politik dan ekonomi, yang kemudian memicu perang saudara seperti Pertempuran Jamal dan Siffin.
Akhir hayat sang "Singa Allah" terjadi dalam suasana ibadah. Pada tanggal 19 Ramadan 40 H (sekitar Januari 661 M), saat Ali sedang memimpin salat subuh di Masjid Agung Kufah, ia diserang oleh seorang pemberontak Khawarij bernama Abdurrahman bin Muljam.
Kepalanya dipukul dengan pedang yang telah dilumuri racun sebagai bentuk balas dendam atas kekalahan kaum Khawarij di Pertempuran Nahrawan.
Meskipun terluka parah, Ali masih sempat berpesan agar pembunuhnya diperlakukan secara adil sesuai hukum qisas.
Ali bin Abi Thalib wafat sekitar dua hari kemudian pada usia 62 atau 63 tahun.
Makamnya di Najaf, Irak, terus diziarahi oleh jutaan umat sebagai penghormatan bagi sang Imam yang wafat demi mempertahankan prinsip kebenaran.
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
Ali bin Abi Thalib Sahabat Nabi Hari Jumat
























