Jum'at, 10/04/2026 11:05 WIB

Ekuador Naikkan Tarif Impor dari Kolombia Jadi 100 Persen





Pemerintah Ekuador mengumumkan kenaikan tarif impor dari Kolombia menjadi 100 persen, melonjak dari 50 persen sebelumnya

Perbatasan Ekuador dan Kolombia (Foto: Reuters)

Bogota, Jurnas.com - Pemerintah Ekuador mengumumkan kenaikan tarif impor dari Kolombia menjadi 100 persen, melonjak dari 50 persen sebelumnya, dengan alasan kegagalan negara tetangganya itu menerapkan langkah-langkah keamanan perbatasan secara konkret.

"Setelah memastikan kegagalan Kolombia dalam menerapkan langkah-langkah keamanan perbatasan yang konkret dan efektif, Ekuador terpaksa mengambil tindakan kedaulatan," kata pemerintah Ekuador dalam pernyataan resminya. Tarif baru tersebut akan mulai berlaku pada 1 Mei mendatang sebagaimana dikutip dari Reuters pada Jumat (10/4).

Ini bukan kali pertama Ekuador memperketat tarif terhadap Kolombia. Pada akhir Januari, tarif ditetapkan di level 30 persen, lalu dinaikkan menjadi 50 persen pada akhir Februari, dengan alasan serupa bahwa Kolombia dinilai belum cukup serius memerangi perdagangan narkoba di kawasan perbatasan kedua negara.

Kolombia tidak segera mengumumkan langkah balasan, namun para pejabat tinggi langsung bereaksi keras di media sosial. Presiden Kolombia Gustavo Petro menyebut langkah Ekuador sebagai tindakan yang keterlaluan dan menyatakan bahwa perjanjian perdagangan di kawasan Andes telah kehilangan nilainya.

"Ini benar-benar mengerikan," tulis Petro di X, seraya mendesak menteri luar negerinya untuk mendorong integrasi yang lebih erat dengan Amerika Tengah, Karibia, dan blok Mercosur Amerika Selatan.

Menteri Energi Kolombia Edwin Palma turut angkat bicara, menyebut keputusan Ekuador sebagai agresi nyata antarbangsa yang secara historis hidup berdampingan.

"Di tengah situasi energi yang kompleks, dengan pemadaman listrik yang sudah memengaruhi jutaan warga Ekuador, semakin mengkhawatirkan bahwa Presiden Daniel Noboa memilih konfrontasi dan bertindak arogan, alih-alih bergerak menuju solusi bersama yang menjamin keamanan energi bagi kawasan tersebut," ujarnya melalui unggahan di X.

Kolombia selama ini menolak tuduhan lemah dalam pemberantasan narkotika dan mengklaim telah rutin menjalankan operasi gabungan bersama aparat keamanan Ekuador.

Bogota sebelumnya juga telah memberlakukan tarif balasan pada sejumlah produk Ekuador, sekaligus menghentikan penjualan energi ke negara itu, komoditas yang sangat dibutuhkan Ekuador kala musim kemarau saat debit air pembangkit listrik tenaga air menyusut. Ekuador juga mengimpor sejumlah besar obat-obatan dan pestisida dari Kolombia.

Ketegangan kedua negara semakin diperparah oleh insiden perbatasan bulan lalu. Pejabat Kolombia menyebut 14 orang tewas di dekat perbatasan setelah Ekuador melakukan operasi keamanan, dengan bahan peledak yang digunakan berakhir di wilayah Kolombia.

Ekuador berdalih bahwa operasi tersebut dilakukan secara sah di wilayahnya sendiri dan sedang menyelidiki asal-muasal kemunculan bahan peledak itu di sisi Kolombia.

Hubungan diplomatik kedua negara juga terganggu oleh polemik mantan Wakil Presiden Ekuador Jorge Glas, yang dipenjara atas tuduhan korupsi. Petro menyebutnya sebagai tahanan politik dan menuntut pembebasannya.

Pernyataan itu berbuntut penarikan duta besar Ekuador untuk Kolombia, sekaligus penghentian kelompok kerja bersama yang dijadwalkan pekan depan untuk membahas kerja sama perdagangan, energi, dan keamanan.

KEYWORD :

Tairf Impor Ekuador Keamanan Perbatasan Perdagangan Narkoba




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :