Badan Pengurus Pusat Himpunan Pengusaha KAHMI (BPP HIPKA) menggelar halalbihalal di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta, Kamis (9/4). (Foto: Ist)
Jakarta, Jurnas.com - Badan Pengurus Pusat Himpunan Pengusaha KAHMI (BPP HIPKA) menjadikan momentum halalbihalal sebagai sarana memperkuat konsolidasi dan membangun optimisme pelaku usaha di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Kegiatan yang digelar di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta, Kamis (9/4), tersebut dihadiri sejumlah tokoh nasional dari berbagai sektor, mulai dari unsur pemerintahan, dunia usaha, hingga pengamat ekonomi.
Ketua Umum BPP HIPKA periode 2022–2027, Kamrussamad, menegaskan bahwa forum ini menjadi ruang strategis untuk mempertemukan para pemangku kepentingan dalam rangka memperkuat kepercayaan dunia usaha.
“Kepercayaan adalah kunci. Jika pelaku usaha optimistis, maka investasi akan bergerak dan pada akhirnya berdampak pada penciptaan lapangan kerja,” ujarnya.
Menurut Kamrussamad, kegiatan ini menghadirkan berbagai elemen penting seperti jajaran direksi BUMN dan BLU sektor industri, perwakilan parlemen, hingga pelaku usaha yang tergabung dalam Kadin Indonesia.
Importir Dorong Optimalisasi Peran Bea Cukai
Kehadiran lintas sektor tersebut diharapkan mampu mendorong sinergi dalam menghadapi tantangan ekonomi global.
Ia menilai, stabilitas dan kepastian kebijakan menjadi faktor utama dalam menjaga minat investasi, baik dari dalam negeri maupun asing. Dalam konteks ini, HIPKA mengapresiasi langkah pemerintah yang dinilai cukup responsif dalam merespons dinamika global, termasuk dampak konflik geopolitik di kawasan Timur Tengah.
“Pemerintah telah menunjukkan respons yang cepat dalam menjaga stabilitas ekonomi. Ini menjadi sinyal positif bagi pelaku usaha untuk tetap percaya diri dalam berinvestasi,” katanya.
Sejumlah langkah strategis pemerintah juga dinilai turut memperkuat fondasi ekonomi nasional. Koordinasi melalui Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK), misalnya, terus diperkuat untuk menjaga stabilitas pasar keuangan.
Di sisi lain, Bank Indonesia melakukan berbagai intervensi guna menjaga nilai tukar rupiah dari tekanan eksternal. Pemerintah juga mengantisipasi gejolak harga energi global melalui kebijakan subsidi dan kompensasi agar tidak membebani APBN.
Upaya lain yang terus didorong adalah penggunaan mata uang lokal dalam transaksi perdagangan internasional melalui skema Local Currency Transaction (LCT). Kebijakan ini dinilai penting untuk mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS.
Selain itu, pemerintah mengoptimalkan peran APBN sebagai shock absorber dengan menjaga daya beli masyarakat melalui program perlindungan sosial serta memberikan dukungan kepada sektor industri terdampak.
Dalam jangka menengah, strategi penguatan ekonomi diarahkan pada hilirisasi industri guna meningkatkan nilai tambah ekspor, serta memperluas pasar ke negara-negara non-tradisional.
Dengan berbagai langkah tersebut, HIPKA berharap kepercayaan pelaku usaha dapat terus terjaga sehingga investasi tetap tumbuh dan mampu membuka lebih banyak peluang kerja di tengah tekanan global yang masih berlangsung.
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
BPP HIPKA Kamrussamad Gerindra konsolidasi pengusaha pelaku usaha sektor industri


























