Kemendikdasmen meluncurkan inisiasi Partisipasi Semesta untuk Pendidikan Bermutu bersama Tanoto Foundation, UNICEF, dan Gates Foundation (Foto: Ist)
Jakarta, Jurnas.com - Tantangan literasi dan numerasi masih menjadi persoalan mendasar dalam pendidikan Indonesia. Untuk mengatasi hal ini, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) melalui Badan Kebijakan Pendidikan Dasar dan Menengah (BKPDM) menggandeng Tanoto Foundation, Gates Foundation, dan UNICEF.
Program ini juga didukung oleh pemerintah daerah dari sejumlah kabupaten/kota sebagai bagian dari upaya bersama meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia.
Kolaborasi tersebut merupakan bagian dari upaya memperkuat implementasi Gerakan Literasi Nasional (GLN) dan Gerakan Numerasi Nasional (GNN) di tingkat satuan pendidikan, khususnya melalui peningkatan kualitas pembelajaran di kelas awal sekolah dasar, penguatan kapasitas guru, serta pemanfaatan data asesmen diagnostik untuk mendukung pembelajaran yang berpusat pada kebutuhan murid.
Selain itu, kolaborasi tersebut direncanakan berlangsung hingga tahun 2029 dengan sasaran siswa kelas awal sekolah dasar yang difokuskan pada penguatan kemampuan dasar siswa di kelas awal sekolah dasar, yang menjadi fondasi penting bagi penguasaan ilmu pengetahuan selanjutnya.
Kemampuan membaca, menulis, dan berhitung tidak hanya menjadi dasar akademik, tetapi juga berperan dalam membangun kepercayaan diri dan kemampuan berpikir siswa.
Dalam sambutannya, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti menekankan bahwa berbagai tantangan seperti learning loss, learning poverty, serta capaian literasi dan numerasi yang belum optimal harus menjadi pendorong untuk melakukan perbaikan secara berkelanjutan.
“Berbagai permasalahan yang kita hadapi bukanlah akhir, melainkan motivasi untuk bekerja lebih baik. Kita harus memastikan bahwa seluruh anak Indonesia mendapatkan layanan pendidikan yang berkualitas dan merata,” ujar Menteri Muti di Jakarta pada Kamis (9/4).
Sementara itu, Head of Learning Environment Department Tanoto Foundation, Margaretha Ari Widowati, mengatakan bahwa literasi dan numerasi merupakan fondasi utama dalam menentukan keberhasilan pembelajaran anak.
Dia menyampaikan bahwa penguatan kedua aspek tersebut tidak dapat dilakukan oleh satu pihak saja, melainkan membutuhkan kolaborasi multipihak yang saling melengkapi antara pemerintah, mitra pembangunan, dan pemerintah daerah.
"Bagi Tanoto Foundation, literasi dan numerasi bukan sekadar keterampilan akademik, tetapi fondasi yang menentukan apakah seorang anak dapat terus belajar, berpikir kritis, dan berkembang di masa depan," kata Margaretha.
Margaretha menyampaikan urgensi penguatan literasi dan numerasi sejak dini melalui pendekatan yang terstruktur dan berbasis data yang akan difokuskan pada penguatan praktik pembelajaran di kelas serta pemanfaatan data untuk memastikan intervensi yang tepat sasaran bagi siswa.
“Kami meyakini bahwa kemajuan tidak dapat dicapai oleh satu pihak saja. Kolaborasi yang kuat, didukung praktik pembelajaran yang efektif dan berbasis data, akan mampu mendorong peningkatan kualitas pembelajaran secara berkelanjutan,” dia menambahkan.
Lebih lanjut, Country Representative UNICEF Indonesia, Maniza Zaman, menegaskan pentingnya pemenuhan hak setiap anak untuk memperoleh pendidikan yang berkualitas melalui kolaborasi multipihak yang kuat.
Dia menyampaikan bahwa upaya bersama antara pemerintah, mitra pembangunan, dan pemangku kepentingan pendidikan merupakan investasi krusial bagi masa depan generasi muda Indonesia.
“Setiap anak memiliki hak untuk mendapatkan pendidikan yang berkualitas. Upaya kolektif bersama yang kita lakukan hari ini merupakan investasi penting agar anak-anak dapat mencapai masa depannya,” kata Maniza.
Maniza menyoroti tantangan krisis pembelajaran yang masih dihadapi secara global maupun nasional, termasuk capaian literasi dan numerasi yang belum optimal.
Dia juga menyampaikan apresiasi karena Indonesia telah menunjukkan kemajuan dalam akses pendidikan dasar, penguatan kualitas pembelajaran tetap menjadi prioritas. Dalam hal ini, UNICEF menegaskan komitmennya untuk terus mendukung pemerintah Indonesia melalui pendekatan inovatif dan berbasis bukti.
“Dunia saat ini masih menghadapi krisis pembelajaran, yang dipicu oleh meningkatnya ketidakpastian di tingkat global serta perubahan lanskap kerja sama multilateral. Hampir 7 dari 10 dari setiap anak di Dunia mengalami krisis pembelajaran. Banyak anak belum mampu membaca dan memahami teks sederhana pada usia 10 tahun, sehingga diperlukan upaya kolektif untuk mengatasinya,” dia menambahkan.
Senada dengan hal itu, Senior Program Officer for Global Education, Gates Foundation India, Satish Menon juga menegaskan bahwa kolaborasi multipihak menjadi kunci dalam memperkuat fondasi literasi dan numerasi secara berkelanjutan di Indonesia.
Melalui inisiatif ini, dukungan akan menjangkau sedikitnya 45.000 siswa dengan pendekatan yang terukur dan berbasis praktik baik global.
“Inisiatif ini menunjukkan bahwa kemitraan yang kuat dapat mendorong perubahan nyata. Dengan kepemimpinan pemerintah, dukungan mitra, dan pemanfaatan data yang efektif, Indonesia memiliki peluang besar untuk menciptakan dampak pendidikan yang berkelanjutan dan bermakna bagi masa depan anak-anak,” kata Satish.
Dalam implementasinya, terdapat tiga fokus utama yang akan dikembangkan. Pertama, penguatan kompetensi melalui pendekatan pembelajaran yang menekankan kemampuan berpikir dasar, termasuk pemahaman teks dan pemecahan masalah secara logis.
Kedua, pembentukan kebiasaan membaca melalui peningkatan reading engagement dan ketersediaan bahan bacaan yang menarik serta mudah diakses. Ketiga, penguatan budaya belajar numerasi yang menekankan pemahaman logika, bukan sekadar hafalan angka.
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
Literasi dan Numerasi Program Kemendikdasmen Mendikdasmen Abdul Mu`ti


























