Kamis, 09/04/2026 23:34 WIB

Selat Hormuz Diblokade Lagi, Menteri UEA Desak Iran Buka Akses Tanpa Syarat





Selat Hormuz masih belum sepenuhnya terbuka. Iran tetap membatasi akses dan menghambat aliran energi ke pasar global dengan menetapkan syarat

Ilustrasi pengiriman minyak melalui Selat Hormuz (Foto: Reuters)

Abu Dhabi, Jurnas.com - Selat Hormuz masih belum sepenuhnya terbuka. Iran tetap membatasi akses dan menghambat aliran energi ke pasar global dengan menetapkan syarat bahwa setiap transit harus berada di bawah pengawasannya, sebuah kondisi yang ditolak mentah-mentah oleh kepala produsen minyak terbesar Uni Emirat Arab (UEA).

"Peralihan bersyarat bukanlah peralihan. Itu adalah pengendalian dengan nama lain," kata Menteri Perindustrian dan Teknologi Maju UEA, Dr. Sultan Al Jaber, dikutip dari Bloomberg pada Kamis (9/4).

"Selat itu harus dibuka sepenuhnya, tanpa syarat, dan tanpa batasan," Kepala Eksekutif Abu Dhabi National Oil Company (ADNOC) itu menambahkan.

Pernyataan Dr. Jaber mencerminkan betapa rumitnya upaya memindahkan minyak, gas, dan komoditas vital lainnya melalui jalur laut tersibuk di dunia itu. Selat Hormuz praktis tertutup hampir sepenuhnya sejak pecahnya perang Iran pada akhir Februari lalu.

Menurut dia, pembukaan kembali selat itu sangat mendesak agar ratusan kapal tanker minyak bermuatan penuh bisa keluar dari Teluk Persia dan para produsen di kawasan dapat meningkatkan produksi. Pada Maret lalu, dia bahkan menyebut pemblokiran jalur air oleh Iran sebagai terorisme ekonomi.

Di tengah kebuntuan itu, Organisasi Pelabuhan dan Maritim Iran mengumumkan dua jalur aman bagi kapal yang melintas di Selat Hormuz, sebagaimana dilaporkan kantor berita pemerintah Nour News pada 9 April. Jalur-jalur tersebut diklaim dibuat untuk menghindari potensi ancaman ranjau laut di kawasan itu.

Saat ini diperkirakan sekitar 230 kapal telah terisi muatan minyak dan siap berlayar. ADNOC disebut Dr. Jaber telah menyelesaikan pemuatan kargo dan berencana memperluas produksi dalam batas kemampuan yang ada, mengingat kerusakan infrastruktur yang dialami selama perang.

Dia menekankan bahwa perusahaan memiliki tanggung jawab kepada para pelanggannya, setelah keselamatan karyawan dan awak kapal terjamin.

UEA beserta produsen Teluk lainnya terpaksa menghentikan produksi minyak, gas, dan produk olahan akibat penyumbatan Selat Hormuz. Harga minyak kini telah melonjak melampaui US$100 per barel dan masih bertahan di sekitar level tersebut, bahkan setelah gencatan senjata sementara yang seharusnya mencakup pembukaan Selat Hormuz diberlakukan.

KEYWORD :

Blokade Selat Hormuz Menteri Uni Emirat Arab Terorisme Ekonomi




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :