Ilustrasi kebakaran hutan dahsyat (File: Abdelaziz Boumzar/Reuters)
Jakarta, Jurnas.com - Penurunan cadangan salju di wilayah pegunungan kini tak hanya dipengaruhi perubahan iklim, tetapi juga kebakaran hutan. Penelitian terbaru mengungkap, kebakaran dapat mempercepat pencairan salju dan menguras pasokan air alami lebih cepat dari perkiraan.
Di wilayah Pacific Northwest, salju pegunungan berfungsi seperti “reservoir alami” yang menyimpan air selama musim dingin. Air ini kemudian dilepaskan perlahan ke sungai dan waduk, mendukung kebutuhan air, irigasi, energi, hingga ekosistem selama musim panas.
Namun, penelitian dari Portland State University menunjukkan sistem alami ini mulai terganggu. Salah satu penyebab utamanya adalah fenomena rain-on-snow, yaitu ketika hujan hangat turun di atas lapisan salju.
Dikutip dari Earth, kondisi ini dapat memicu pencairan salju secara cepat dalam hitungan hari, sekaligus meningkatkan risiko banjir. Alih-alih mencair perlahan saat musim semi, air justru mengalir deras lebih awal di musim dingin.
Tim dari Portland State University menemukan bahwa salju di area hutan yang terbakar mencair jauh lebih cepat dibandingkan wilayah yang tidak terdampak kebakaran.
Hal ini terjadi karena kanopi hutan hilang, sehingga lebih banyak sinar matahari mencapai salju. Selain itu, abu dan sisa pembakaran menggelapkan permukaan salju, membuatnya menyerap panas lebih banyak
Akibatnya, kemampuan salju untuk menahan panas yang dikenal sebagai “cold content” menurun.
Peneliti utama Sage Ebel menjelaskan bahwa jika sebuah spons memiliki banyak ruang, ia bisa menyerap air sebelum mengalir keluar. Namun jika sudah jenuh, air langsung mengalir. Salju dengan ‘cold content’ tinggi bisa menyerap panas sebelum mencair.
“Yang kami temukan, perubahan kecil pada radiasi di area terbakar membuat ‘cold content’ lebih rendah dibandingkan area yang tidak terbakar, sehingga lebih rentan mencair saat hujan turun di atas salju,” ujarnya.
Penelitian dilakukan di daerah aliran sungai Breitenbush, Oregon, yang sekitar 80% wilayahnya terbakar dalam kebakaran Lionshead 2020.
Hasilnya salju di area terbakar mencair. Sementara di ketinggian menengah, pencairan akibat hujan meningkat hingga 26 persen.
Wilayah ketinggian menengah menjadi paling rentan karena berada di batas suhu antara hujan dan salju.
Pencairan salju yang lebih cepat di musim dingin membawa dampak serius. Air yang seharusnya tersimpan hingga musim panas justru habis lebih awal. Hal ini menyulitkan pengelolaan air, karena harus menyeimbangkan antara pencegahan banjir dan penyimpanan air untuk musim kering.
Ebel menambahkan bahwa dampak perubahan iklim semakin parah di hutan yang terbakar. Kemampuannya menyerap perubahan suhu atau hujan menjadi lebih kecil dibandingkan hutan yang tidak terbakar.
“Seiring meningkatnya luas hutan yang terbakar, dampaknya bisa meluas terhadap cadangan air yang kita andalkan,” ujarnya.
Penelitian ini menegaskan bahwa kebakaran hutan tidak hanya merusak vegetasi, tetapi juga mengubah cara alam menyimpan air.
Dengan meningkatnya kebakaran besar, musim dingin yang lebih hangat, dan hujan yang menggantikan salju, maka “reservoir alami” di pegunungan menjadi semakin tidak stabil dan lebih cepat terkuras.
Dengan demikian, kebakaran hutan dan perubahan iklim bekerja bersama mempercepat pencairan salju, mengurangi cadangan air alami, dan meningkatkan risiko banjir. Temuan ini menjadi peringatan penting bagi pengelolaan air di masa depan. (*)
Penelitian ini dipublikasikan di jurnal Environmental Research Communications.
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
Kebakaran Hutan Pencairan Salju Pasokan Air Menyusut






















