Jum'at, 03/04/2026 17:58 WIB

Bensin Mahal, Kendaraan Listrik Laris Manis di Selandia Baru





Penjualan kendaraan listrik meningkat drastis hingga tiga kali lipat di Selandia Baru, seiring dengan kenaikan harga bahan bakar imbas konflik Timur Tengah.

Ilustrasi pengisian kendaraan listrik (Foto: AFP)

Wellington, Jurnas.com - Penjualan kendaraan listrik meningkat drastis hingga tiga kali lipat di Selandia Baru, seiring dengan kenaikan harga bahan bakar imbas konflik Timur Tengah.

Dikutip dari AFP pada Jumat (3/4), data Badan Transportasi Selandia Baru menunjukkan 3.108 registrasi kendaraan listrik pada Maret, naik dari 921 pada Februari lalu.

Pada periode yang sama, harga bensin rata-rata naik lebih dari 30 persen, dan harga solar naik 74 persen.

Menteri Transportasi Selandia Baru, Chris Bishop, mengatakan bahwa pendaftaran hingga saat ini hampir 2.000 lebih tinggi dibandingkan periode yang sama pada 2025.

"Tidak mengherankan jika terjadi lonjakan permintaan kendaraan listrik karena orang-orang melihat harga bahan bakar dan harga diesel, dan berpikir mungkin sekarang adalah waktu yang tepat untuk beralih ke mobil yang lebih ramah lingkungan, dan saya menduga hal itu akan terus berlanjut," ujar Bishop.

Sebelumnya, penjualan kendaraan listrik di Selandia Baru anjlok setelah pemerintahan koalisi sayap kanan berkuasa pada November 2023, menghapus subsidi mobil ramah lingkungan.

Kebijakan tersebut memberikan potongan harga hingga sekitar NZ$7.000 untuk pembelian kendaraan listrik, sementara pembeli kendaraan bensin atau diesel yang menghasilkan emisi lebih tinggi harus membayar lebih.

"Memberikan subsidi kepada para penerima penghasilan tinggi untuk membeli Tesla bukanlah penggunaan uang pajak yang bijaksana. Itu bukan penggunaan uang publik yang baik," kata Bishop.

KEYWORD :

Kendaraan Listrik Selandia Baru Krisis Migas Minyak Langka




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :