Ilustrasi - perang Mu`tah (Foto: Suara Islam)
Jakarta, Jurnas.com - Perang Perang Mu`tah menjadi saksi keberanian luar biasa para sahabat Rasulullah SAW.
Dalam pertempuran itu, Nabi menunjuk tiga panglima secara berurutan. Mereka adalah Zayd bin Haritsah, kemudian Ja`far bin Abi Thalib, dan Abdullah bin Rawahah.
Ketika Zayd bin Haritsah gugur di medan perang, Ja’far bin Abi Thalib maju mengambil panji. Ia bertempur dengan keberanian yang tak tergoyahkan. Dalam kondisi luka parah, ia tetap memimpin pasukan tanpa mundur sedikit pun.
Saat tangan kanannya terputus, Ja’far memindahkan bendera ke tangan kirinya. Ketika tangan kirinya juga terpotong, ia tetap berusaha mempertahankan panji dengan tubuhnya. Hingga akhirnya, ia gugur sebagai syahid di jalan Allah SWT.
Pengorbanan luar biasa ini mendapat balasan yang agung dari Allah. Rasulullah SAW bersabda bahwa beliau diperlihatkan Ja’far terbang di surga dengan dua sayap. Karena itu, Ja’far dikenal dengan julukan “ath-Thayyar” (yang terbang di surga).
Allah SWT juga menegaskan dalam Al-Qur’an bahwa para syuhada tidaklah mati. Mereka hidup di sisi Allah dan mendapatkan rezeki yang mulia. Hal ini menunjukkan bahwa kematian di jalan Allah adalah kehidupan yang hakiki.
Kisah Ja’far mengajarkan tentang keteguhan iman dan keberanian sejati. Ia tidak mundur meski menghadapi luka dan kematian. Semangat ini menjadi teladan bagi setiap Muslim dalam menghadapi ujian kehidupan.
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
Info Keislaman Ja`far bin Abi Thalib Sahabat Nabi Perang Mu`tah



























