Senin, 23/03/2026 16:34 WIB

Megatsunami Greenland Picu Getaran Global 9 Hari, Fenomena Langka Terungkap





Fenomena ini bahkan cukup kuat untuk merambat melalui kerak bumi dari Alaska hingga Australia, meski tidak terasa langsung oleh manusia

Ilustrasi mega-tsunami (Foto: RRI)

Jakarta, Jurnas.com - Wilayah terpencil di Greenland yang selama ini nyaris tak tersentuh tiba-tiba menjadi pusat perhatian ilmuwan dunia setelah sinyal seismik aneh terdeteksi secara global.

Getaran berulang setiap 92 detik itu berlangsung selama sembilan hari, memicu kebingungan karena tidak menyerupai gempa bumi biasa.

Alih-alih getaran acak seperti gempa, sinyal tersebut muncul sebagai denyut ritmis yang stabil dan konsisten. Fenomena ini bahkan cukup kuat untuk merambat melalui kerak bumi dari Alaska hingga Australia, meski tidak terasa langsung oleh manusia.

Setelah penyelidikan intensif, sumbernya akhirnya dilacak ke Dickson Fjord, sebuah kanal sempit yang diapit tebing setinggi hampir 900 meter. Citra satelit terbaru menunjukkan bekas longsoran besar di salah satu sisi gunung yang runtuh ke dalam perairan fjord.

Dikutip dari Earth, peristiwa itu terjadi pada 16 September 2023, ketika lebih dari 25 juta meter kubik batu dan es runtuh sekaligus ke dalam air. Dampaknya memicu mega-tsunami setinggi sekitar 200 meter, menjadikannya salah satu gelombang terbesar yang pernah tercatat.

Gelombang tersebut menghantam dinding fjord, memantul, lalu bergerak bolak-balik dalam ruang sempit sepanjang beberapa kilometer. Alih-alih mereda, air terus berosilasi membentuk fenomena yang dikenal sebagai seiche, yakni gelombang berdiri yang bergerak seperti piston raksasa.

Gerakan inilah yang kemudian menghasilkan sinyal seismik global yang tidak biasa. Para ilmuwan mencatat bahwa permukaan air naik dan turun secara konstan hingga puluhan meter, menciptakan tekanan berulang pada dasar laut.

Penelitian yang melibatkan puluhan ilmuwan dari berbagai negara ini kemudian dipublikasikan dalam jurnal bergengsi seperti Science. Studi tersebut mengonfirmasi bahwa longsoran besar adalah pemicu utama dari fenomena langka tersebut.

Dalam prosesnya, tim peneliti menggabungkan data lapangan, rekaman seismik, serta simulasi komputer untuk merekonstruksi kejadian. Pendekatan multidisiplin ini menjadi kunci untuk memecahkan misteri yang awalnya tidak teridentifikasi.

Lebih jauh, temuan ini juga menyoroti peran perubahan iklim dalam meningkatkan risiko bencana ekstrem. Pemanasan global menyebabkan pencairan gletser yang sebelumnya menopang struktur lereng, sehingga membuatnya lebih rentan runtuh.

Peristiwa serupa sebelumnya juga terjadi di Karrat Fjord pada 2017 yang memicu tsunami mematikan. Hal ini menunjukkan bahwa kawasan Arktik kini menghadapi ancaman baru yang semakin sulit diprediksi.

Di sisi lain, kemajuan teknologi satelit turut membantu mengungkap detail kejadian ini secara lebih akurat. Misi seperti Surface Water and Ocean Topography (SWOT) memungkinkan pemetaan permukaan air dengan resolusi tinggi, bahkan di wilayah terpencil.

Teknologi ini memberi ilmuwan kemampuan baru untuk memantau fenomena ekstrem seperti tsunami, gelombang badai, hingga perubahan laut yang sebelumnya sulit diamati. Dengan data yang lebih presisi, pemahaman terhadap dinamika laut pun semakin berkembang.

Ke depan, para peneliti mulai menelusuri arsip seismik global untuk mencari pola serupa yang mungkin terlewat di masa lalu. Upaya ini diharapkan dapat meningkatkan sistem peringatan dini, terutama bagi wilayah pesisir dan jalur pelayaran di lintang tinggi.

Dengan demikian, peristiwa di Dickson Fjord menjadi pengingat bahwa bahkan sudut paling sunyi di Bumi pun menyimpan potensi bencana besar. Dan dengan perubahan iklim yang terus berlangsung, memahami sinyal-sinyal alam seperti ini menjadi semakin krusial. (*)

KEYWORD :

Mega Tsunami Bencana tsunami Dickson Fjord Wilayah Greenland Fenomena Langka




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :