Berang-berang (Foto: Pexels/Abhijeet More)
Jakarta, Jurnas.com - Sebuah studi terbaru di Switzerland mengklaim berang-berang ternyata mampu membantu menyerap emisi karbon secara alami. Melalui bendungan dan rawa yang mereka bangun, hewan ini dapat mengubah lanskap sungai menjadi penyerap karbon jangka panjang.
Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Communications Earth and Environment menunjukkan bahwa ekosistem yang dibentuk berang-berang dapat menyimpan lebih banyak karbon dibandingkan yang dilepaskan setiap tahunnya. Dengan kata lain, kawasan tersebut berfungsi sebagai carbon sink alami tanpa memerlukan teknologi mahal.
Temuan ini menjadi relevan di tengah upaya global menekan emisi gas rumah kaca. Terlebih, spesies Eurasian beaver yang sempat diburu hingga hampir punah kini mulai kembali diperkenalkan di berbagai wilayah Eropa.
Penelitian dilakukan pada aliran sungai sepanjang sekitar 0,8 kilometer di wilayah utara Swiss yang telah dipengaruhi aktivitas berang-berang sejak 2010. Sebelum itu, kawasan tersebut didominasi pepohonan dan berfungsi sebagai dataran banjir alami.
Namun setelah berang-berang hadir, mereka menebang sebagian pohon untuk membangun bendungan, sehingga membuka kanopi dan memungkinkan vegetasi baru tumbuh. Perubahan ini menciptakan ekosistem rawa yang lebih kompleks dan efektif dalam menyimpan karbon.
Para peneliti kemudian mengukur karbon yang tersimpan dalam sedimen, biomassa, dan kayu mati, serta yang dilepaskan ke atmosfer. Hasilnya menunjukkan bahwa kawasan tersebut mampu menyerap antara 98 hingga 133 metrik ton karbon per tahun.
Jumlah ini setara dengan emisi dari ratusan barel minyak, menjadikannya kontribusi signifikan untuk skala ekosistem kecil. Bahkan, jika diterapkan secara luas, habitat berang-berang di Swiss diperkirakan dapat mengimbangi hingga hampir 2 persen emisi karbon tahunan negara tersebut.
AI Bertumbuh, Emisi Karbon Google juga Naik
Meski demikian, peneliti menekankan bahwa berang-berang bukan solusi tunggal untuk krisis iklim. Namun, pendekatan berbasis alam seperti ini dinilai lebih efisien secara biaya sekaligus berkelanjutan dibandingkan infrastruktur buatan.
Temuan ini juga menantang anggapan lama bahwa lahan basah kurang efektif karena bisa menghasilkan emisi karbon. Sebaliknya, studi ini menunjukkan bahwa ekosistem tersebut justru mampu menyimpan karbon dalam jangka panjang jika dikelola secara alami.
Selain itu, keberadaan berang-berang juga meningkatkan ketahanan lingkungan terhadap kebakaran hutan dengan menjaga kelembapan lanskap. Dampaknya, potensi pelepasan karbon dalam skala besar dapat ditekan sebelum terjadi.
Secara historis, populasi berang-berang di Eropa dan Amerika Utara sempat menurun drastis akibat perburuan. Namun kini, seiring upaya konservasi, para ilmuwan mulai memahami kembali peran penting mereka dalam menjaga keseimbangan ekosistem.
Dengan demikian, kebangkitan populasi berang-berang membuka peluang baru dalam strategi mitigasi perubahan iklim. Pendekatan ini menunjukkan bahwa solusi tidak selalu harus kompleks, karena alam sering kali menyediakan mekanisme yang efektif.
Pada akhirnya, studi ini memperkuat gagasan bahwa bekerja selaras dengan alam dapat menjadi kunci menghadapi krisis lingkungan global. Dan dalam hal ini, berang-berang mungkin bukan sekadar hewan biasa, melainkan sekutu tak terduga dalam melawan perubahan iklim. (*)
Sumber: Live Science
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
Peran Berang-berang Penyerap Karbon Emisi Karbon Ekosistem Rawa-rawa



























